Setelah curhat tentang
Ego, permasalahan yang saya yakin semua orang mengalaminya. Hanya saja, setiap orang punya momen mereka masing-masing saat berhadapan dengan yang satu ini. Ada yang sejak kecil sudah dididik atau terlatih - atau bisa juga terpaksa - untuk melawan egonya, tapi ada juga yang saat dewasa baru menyadari dan berusaha memperbaikinya. Ada juga yang merasa bahwa masalah ini tidak ada habisnya. Saat satu masalah ego berhasil ia kuasai, ada saja lagi masalah ego lain yang perlu ia hadapi.
Saya sendiri merasa mulai menyadari masalah ini terutama saat saya kuliah. Pada saat itu, pemikiran saya seperti terbuka dan melihat diri saya tidak seperti sebelumnya. Ternyata saya adalah orang yang payah kalau bicara masalah ego, mulai dari hal kecil sampai yang penting-penting. Sekarang pun saya merasa masih berkutat memperbaiki diri saya sendiri.
Karena itu, kali ini saya berusaha menuliskan pendapat saya mengenai ego. Saya mendasarinya dari apa yang saya temukan sejak kuliah dulu sampai sekarang.
Bagian-bagian dalam tulisan ini tidak berusaha membedakan ego ke dalam jenis-jenis tertentu. Akan tetapi, anggap saja bagian-bagian tersebut lebih mengarah ke contoh-contoh bagaimana ego dapat mempengaruhi perilaku kita. Lebih ke contoh praktisnya saja lah.
Ego dalam Komunikasi
Mari kita mulai dari komunikasi. Dimulai dari sini karena mungkin ego yang akan saya ceritakan di bagian selanjutnya juga merupakan ego dalam komunikasi juga. Bisa dikatakan, saya hanya ingin mengawali tulisan ini dengan big picture, suatu gagasan yang menyeluruh saja. Ego dalam komunikasi yang akan saya ceritakan terdiri dari dua hal, ego saat bicara dan ego saat mendengarkan.
Mungkin kita sudah punya gambaran mengenai ego saat bicara. Kebanyakan dari kita, saya yakin, pasti berpikir bahwa ego saat bicara adalah keinginan agar apa yang kita bicarakan itu disetujui atau disepakai oleh orang-orang yang mendengarkannya. Saya yakin juga bahwa banyak juga dari kita yang sudah berusaha berbenah untuk masalah tersebut.
Namun, ada juga konsep ego yang lain yang lebih ingin saya bahas di sini. Ego tersebut berwujud kita ingin agar ide atau gagasan kita bisa dipahami secara keseluruhan dan dengan cara yang kita inginkan. Jadi bahkan sebelum orang lain setuju atau tidak, ego tersebut sudah mengganggu kita dengan memastikan isi otak orang lain itu harus sama dengan isi otak kita. Seharusnya wajar-wajar saja jika seseorang ingin agar apa yang ia bicarakan itu dipahami orang lain, tapi hal tersebut menjadi mengganggu saat terlalu berlebihan. Saya merasa ego ini sudah berlebihan saat pembicaraan itu terlalu satu arah. Jadi, orang yang bicara itu dia akan terus bicara tanpa melihat kondisi si pendengar. Ia akan terus memberi informasi jika ia pikir lawan bicaranya belum paham apa yang ia bicarakan. Si pembicara ini berpikir bahwa dengan lebih banyak bicara, maka seharusnya apa yang ia sampaikan akan lebih jelas. Saya pernah seperti ini dan saya juga menemui beberapa orang di sekitar saya juga seperti ini.
Lalu apa yang saya lakukan untuk mengatasinya? Saat sadar, saya mencoba untuk menahan diri dan mengingat kembali apa inti dari informasi atau pendapat yang ingin saya sampaikan. Dengan begitu, saya jadi terpikir bahwa sebenarnya yang penting 'kan orang tahu apa yang saya maksudkan, tanpa harus persis seperti bagaimana saya memikirkannya. Namun, saya juga sadar bahwa terlebih dahulu saya harus paham bagaimana jalan pikiran lawan bicara saya. Dengan begitu apa yang saya bicarakan bisa lebih sesuai dengan mereka. Caranya misal dengan bertanya berkaitan dengan diri mereka yang, tentunya, berkaikan dengan topik pembicaraan. Baru gaya bicaranya saya sesuaikan dengan itu. Kemudian setiap saya selesai menyampaikan sesuatu, akan lebih menyenangkan jika saya punya gambaran apa yang ditangkap oleh pendengar. Sekali lagi cara yang mungkin dilakukan adalah bertanya, apa tanggapan mereka. Selain saya bisa memastikan, saya juga membuat mereka meninjau ulang (dalam pikiran mereka) apa yang baru saja saya bicarakan. Sebab, terkadang manusia itu perlu waktu untuk mencerna informasi. Akhirnya, dari sini saya menemukan bahwa bicara itu tidak hanya tentang seberapa baik gaya bicara atau seberapa menarik pilihan kata-kata, tapi juga tentang menyesuaikannya dengan orang yang mendengarkannya. Secara kuantitas pun, bukan berarti lebih banyak bicara berarti lebih memahamkan. Menurut saya jumlah itu harus pas, tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit.
Beralih dari aktivitas bicara, ego dalam komunikasi juga bisa ada saat kita mendengarkan. Ego saat mendengarkan berwujud kita yang merasa mengerti apa yang orang lain katakan, tanpa mau merasa kurang. Ego yang berlebihan akan membuat kita bahkan menganggap bahwa kita itu lebih paham dibandingkan orang yang bicara itu sendiri. Bisa juga kita merasa lebih paham dibanding apa yang orang itu pikirkan tentang pemahaman kita. Contoh ekstremnya misal rasa benar yang kita miliki membuat kita malah jadi berdebat dengan orang yang sedang ingin bicara. Kita merasa 'Aku tahu maksudmu seperti ini!' atau 'Ya itu namanya seperti ini! Kamu yang malah tidak paham!' sehingga orang yang bicara bukannya mau terbuka malah memasang pertahanan dan memilih berhati-hati terhadap kita.
Mengapa itu buruk? Contoh ekstrem, misal saat curhat. Bayangkan, kita mau bicara, berusaha terhubung dengan orang lain, berniat membuka diri hingga merasa vulnerable, membuka pintu hati, membuka pertahanan kita, eh malah ditusuk-tusuk dengan perkataannya, malah diserang kita. Bagaimana rasanya itu? Ya mungkin contohnya terlalu ekstrem ya? Namun, untuk kondisi-situasi lain saya rasa konsep ego seperti ini juga bisa terjadi dan tentunya juga berakibat buruk untuk semua pihak. Sekalipun itu hanya percakapan kasual biasa, ego dalam mendengarkan tetap menyebabkan rasa tidak nyaman.
Ciri yang khas dari ego saat mendengarkan adalah kehilangan rasa ingin tahu tentang apa yang orang maksudkan. Kehilangan 'rasa ingin tahu' tersebut mengarahkan kita untuk jadi 'tidak sabar'. Dari sini, kita bisa mencari tahu asal dari mana ego itu muncul. Bisa jadi sebenarnya ego itu sedang memberi tahu kita bahwa kita sedang lelah saat itu sehingga tidak siap menjadi seorang pendengar. Atau bisa juga merupakan indikasi bahwa kita tidak terlalu suka kepada orang yang sedang bicara.
Karena itu menurut saya, jika memang penting bagi kita untuk mendengarkan, penting juga untuk berusaha mengingat kembali alasan mengapa kita ingin tahu. Jika tidak mampu, ya lebih baik bilang saja bahwa kita sedang kurang bisa diajak bicara. Itu yang saya coba lakukan kalau sudah merasa tidak sabar. Alasan saya ingin tahu biasanya karena mungkin ada hal menarik dari apa yang pembicara sampaikan. Mungkin saja belum ke intinya, mungkin juga saya sebenarnya belum paham. Jadi harus menghindari membuat asumsi-asumsi yang mengarahkan ke kesimpulan sendiri. Intinya berusaha berempati. Posisikan diri kita sebagai si pembicara, bagaimana cara berpikirnya, bagaimana kondisinya, situasi apa yang ia hadapi, dan hal-hal lain yang membuat kita bisa seolah-olah berada di tempatnya. Mungkin berbagai hal ini menyulitkan ia untuk bicara. Karena itu mungkin ia perlu waktu lebih banyak, atau perlu lebih memastikan bahwa kita orang yang 'aman' untuk diajak bicara.
Saat saya menyadari hal ini, terasa mind blowing. Saya merasa sangat senang! Ternyata mendengarkan orang itu bisa sangat berguna. Asal tentunya dilakukan dengan niat baik. Mendengarkan orang juga bisa membantu orang tersebut, dengan banyak cara juga. Misalnya dengan menghibur si pembicara dengan meresponnya melalui kata-kata penyemangat. Bisa juga dengan hanya sekedar membuat orang tersebut merasa tidak sendiri saat kita merasa tertarik dengan apa yang ia bicarakan. Terkadang, yang seperti itu yang lebih dibutuhkan orang. Saat saya melakukan hal-hal tersebut, saya lalu menemukan bahwa orang-orang jadi terbuka pada saya. Mereka juga saya rasa lebih suka pada saya secara personality. Entah benar-benar suka atau justru kasian pada saya yang banyak mendengarkan, saya juga tidak tahu, hehehe. Bagaimanapun, sampai sekarang saya merasa mendengarkan dengan baik itu penting untuk interaksi kita dengan sesama.
Ego dalam Meminta Maaf
Ego selanjutnya adalah ego saat kita meminta maaf. Saya merasakan ego ini ada pada diri saya sejak kecil. Ego ini berwujud saat saya meminta maaf, maka saya ingin agar dimaafkan secara mutlak. Padahal seharusnya saat meminta maaf, kita harus sadar bahwa orang yang kita tuju tersebut punya hak untuk tidak memberi maaf. Sesungguhnya wajar jika kita merasa takut tidak dimaafkan, sehingga kita melakukan usaha-usaha untuk bisa dimaafkan. Karena itu, izinkan saya untuk membahas lebih lanjut.
Ego dalam minta maaf ini bisa berwujud dua hal. Yang pertama, kita tidak benar-benar merasa bersalah dan mengakui kesalahan. Jadi ada pihak lain di luar kuasa kita yang menyebabkan kita melakukan kesalahan. Sementara yang kedua adalah kita terlalu memperlihatkan rasa bersalah melebihi apa yang sebenarnya kita rasakan. Dari sini kita coba tinjau satu per satu.
Meminta maaf tanpa merasa bersalah itu misalnya meminta maaf tapi banyak alasan. Contohnya telat saat janjian dengan teman. "Wah aku telat ya? Tadi nganterin adek les dulu soalnya. Jalan macet pula. Maaf ya?" Padahal 'kan bisa dikira-kira dulu jam ketemuannya, disesuikan setelah mengantar adek les. Atau berangkat lebih awal, dengan memperhitungkan kemungkinan macet. Yang menentukan jam ketemuan itu yang lebih penting sih. Seharusnya bisa diperhitungkan dengan lebih baik. Kalau tidak bisa cepat, ya dibuat sebisanya saja, 'kan tidak apa-apa? Namanya juga ketemu teman. Kecuali kalau ketemuan dengan klien urusan bisnis. Kalau itu malah punya alasan untuk tidak usah mengantar adek. Namanya juga masalah kerjaan, nomor satulah itu. Saya ini ngomong apa? Malah ngelantur, hehehe.
Intinya, tidak merasa bersalah atau kurang merasa bersalah itu ditunjukkan dengan tidak terlalu membahas kesalahan apa yang kita lakukan. Yang dibahas justru masalah-masalah yang berada di luar kendali kita. Jadi, misal tidak ada masalah itu ya kita tidak akan salah, akhirnya ya harus dimaafkan donk. Kira-kira begitu mindset-nya.
Ego selanjutnya adalah justru terlalu merasa bersalah yang sebenarnya tidak kita rasakan. Ciri-cirinya adalah apa yang kita sampaikan itu berlebihan. "Maaf ya aku telat. Bodohnya aku! Seharusnya tadi bisa berangkat lebih awal. Memang dasar bodoh, bodoh!", sambil memukul-mukul kepala sendiri. Cara lain untuk menggambarkan ego ini adalah menunjukkan bahwa kita sudah terbebani dengan rasa bersalah yang kita rasakan. Jadi, kita sudah menghukum diri kita dengan perasaan kita. Mungkin kita mengolok-olok diri sendiri, mungkin kita memukul bagian tubuh sendiri, mungkin kita menangis. Karena itu orang lain harusnya memaklumi kita.
Menurut saya, ego saat meminta maaf awalnya muncul karena kita tidak mau menerima rasa bersalah. Dari sadar melakukan kesalahan sampai akhirnya dimaafkan, pasti akan timbul rasa bersalah. Bagaimanapun, rasa bersalah itu terasa tidak nyaman. Mungkin tidak menerima rasa bersalah terdengar seperti masalah ego yang pertama, yang meminta maaf tanpa rasa bersalah. Namun sebenarnya, ego yang kedua juga. Terlalu merasa bersalah itu mungkin juga perwujudan kita tidak mau menerima rasa bersalah yang sesungguhnya. Ego kita seperti bilang "Aku itu sudah merasa sakit kok! Rasa tidak nyamannya itu sudah aku rapel, aku tidak perlu menerima rasa besalah itu lagi". Kira-kira seperti itu. Ego sedang mencari jalan pintas dengan cara membuat rasa bersalah versinya sendiri.
Kemudian, ego juga ingin menghindari konsekuensi dari kesalahan yang kita perbuat. Hal ini mungkin sangat terlihat di ego yang tidak merasa bersalah. Misalnya dengan menyalahkan pihak luar, pihak itulah yang seharusnya dimintai pertanggung jawaban. Namun, hal ini bisa dirasakan juga di jenis ego yang terlalu merasa bersalah. Ego berpikir bahwa menyakiti diri kita sendiri itu sudah cukup untuk menggantikan konsekuensi dari kesalahan kita. Mungkin bisa diibaratkan seperti ini:
- Kita itu korban, jadi tidak perlu dimarahi.
- Kita itu sudah menghukum diri sendiri, jadi jangan dihukum.
- Kita itu sudah menyakiti diri sendiri, jadi harus dimaafkan.
Lalu bagaimana seharusnya kita meminta maaf? Well, sebelumnya saya mohon maaf. Sampai sekarang pun saya juga belum tahu pasti apa yang terbaik saat meminta maaf. Sementara ini, yang saya anggap baik adalah fokus untuk bertanggung jawab terhadap kesalahan tersebut. Yang jelas kita harus menerima konsekuensi dari kesalahan yang kita perbuat. Dimulai dari rasa bersalah yang muncul. Rasa bersalah itu harus kita terima, sekalipun memang tidak nyaman. Dengan menerima rasa bersalah, berarti kita tahu kita salah. Jadi, perasaan kita sebenarnya sedang memberi tahu kita tentang apa yang terjadi. Kemudian kita hadapi setelahnya. Mungkin kita kena marah, mungkin kita dihukum, mungkin kita perlu ganti rugi, mungkin kita tidak dimaafkan, atau yang paling parah mungkin kita dimaafkan tapi tidak dengan ikhlas. Bagaimanapun kelanjutannya dan hasilnya, kita sebaiknya fokus untuk menyelesaikan masalah yang timbul dari kesalahan kita. Sebab, itu adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan. Anggap saja meminta maaf adalah bagian dari itu, maka menurut saya minta maaflah sehingga bisa ikut mengurangi (sykur-syukur menghilangkan) dampak dari kesalahan kita.
Ego dalam Membantu
Hal pertama yang mungkin muncul saat berpikir tentang 'ego dalam memberi bantuan' adalah reward atau ingin mendapat balasan. Harus saya akui, itu memang benar. Menginginkan balasan salah satu wujud ego dalam perilaku ini. Namun, ada wujud lain ego dalam kegiatan membantu. Yang saya maksudkan adalah saat kita memberi bantuan beserta saran tentang permasalah yang dialami orang lain, maka kita ingin agar orang itu benar-benar melakukan saran kita.
Saya pernah mengalaminya. Lebih tepatnya saya tidak memberi saran, tapi lebih kepada merasa orang lain itu seharusnya seperti ini dan seperti itu. Jadi mereka sebenarnya tidak konsultasi atau sebagainya. Saya merasa bahwa apa yang mereka lakukan itu salah atau kurang tepat, dan saya sayangnya tidak bisa menoleransinya. Hal ini terjadi saat saya tinggal mengontrak rumah bersama teman-teman saat kuliah. Kami tinggal bersama sehingga saya jadi tahu keseharian teman-teman saya itu. Saat itu saya merasa ada beberapa tindakan atau kebiasaan mereka yang tidak terlalu cocok dengan saya. Tindakan dan kebiasaan itu tidak mempengaruhi saya sebenarnya, hanya mempengaruhi mereka sendiri. Jadi, saat itu saya terlalu kepikiran orang lain.
Karena hal itu, saya jadi sering marah-marah sendiri. Saya merasa terganggu hanya disebabkan sesuatu yang tidak sesuai dengan pemikiran saya. Saya coba memberi tahu mereka kalau apa yang mereka lakukan itu kurang baik menurut saya. Biasanya itu tidak berakhir baik. Dari sini terlihat bahwa ego lebih merugikan kita dibandingkan orang lain. Saya yang malah kehilangan energi karena memikirkan orang lain plus naik emosi, padahal tindakan itu tidak terlalu menghasilkan. Justru bisa jadi saya malah kurang akur dengan teman-teman saya.
Yang mengubah saya waktu itu adalah introspeksi dan menerima kenyataan. Akhirnya kita harus sadar bahwa manusia itu beda-beda. Apa yang bekerja untuk saya belum tentu baik bagi orang lain. Apa yang menurut saya baik, belum tentu bisa bekerja untuk orang lain. Selain itu, kita manusia punya kehidupannya sendiri-sendiri. Bukan berarti yang tampan, tinggi, kaya, dan pintar itu lebih baik dan lebih penting dibandingkan yang kurang tampan, dll. Seperti game Dota. Bukan berarti carry itu satu-satunya yang membuat tim bisa menang. Support juga penting, mid laner juga penting, off laner juga penting. Tanpa peran dari semua anggota tim, tidak mungkin carry bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Dan sering sekali cara menjalankan peran di setiap posisi itu sangat berlainan satu sama lain. Kalau support disabler build damage, malah dia nanti sering bunuh diri saat war karena kurang cara untuk inisiasi, kurang tank, atau tidak bisa escape. Kira-kira begitulah.
Kemudian, saat saya mulai mengerti tentang empati saat mendengarkan, saya jadi tersadar kalau bisa jadi saya itu tidak tahu posisi orang lain sebenarnya seperti apa. Karena itu, penting untuk kita selalu berusaha memahami tempat orang lain. Apakah teman atau saudara kita itu punya masalah lain yang mengganggu, mungkin mereka tidak punya sumber daya yang kita punya untuk menjalankan saran kita, atau bisa juga mereka sebenarnya sudah melakukan saran kita tapi tidak berhasil-berhasil.
Akhirnya menurut saya, kita harus selalu ingat niat kita itu sebenarnya membantu. Membantu itu berarti mencoba meringankan permasalahan orang lain. Kalau saya atau kalian menyarankan sesuatu ke orang lain, entah apakah mereka akan melakukannya atau tidak, berhasil melakukannya atau tidak, ya itu tergantung diri mereka sendiri. Kalau kita terlalu memaksakan, minimal hanya sekedar terlalu kepikiran saja, maka bisa jadi itu justru tidak membuat masalah mereka menjadi lebih ringan. Jadinya, apakah yang seperti itu disebut membantu?
Ego bukan Sesuatu yang Harus Kita Benci
Mengapa kita tidak perlu membenci ego? Karena ego itu adalah bagian dari diri kita. Ego itu penting, dan kita membutuhkannya. Yang menjadi masalah jika ego itu terlalu dominan. Anggap bahwa ego yang dominan itu seperti konflik dalam diri kita yang seharusnya kita damaikan. Kebencian itu tidak bisa mendamaikan konflik, justru memperparah.
Itu yang saya rasakan dulu saat saya beranjak dewasa. Anak manja yang harus menghadapi dunia. Saya membenci diri saya sendiri. Mengapa saya payah kalau bicara dengan orang? Mengapa saya sering tidak puas saat berusaha menyelesaikan masalah? Mengapa saya sering tersinggung dan menyinggung perasaan orang? Namun akhirnya saya bisa keluar dari sana dengan penerimaan, bahwa kehidupan itu penuh kesulitan dan saya hanya harus mengahadapainya.
Belakangan ini, saya tidak hanya menerima kenyataan kehidupan saja, tapi juga berusaha menerima diri saya sendiri apa adanya. Menerima apa adanya bukan berarti membiarkan. Menerima artinya tahu bahwa saya pasti perlu berubah, perlu memperbaiki diri, dan kegiatan tersebut menyebalkan serta tidak mengenakan. Akan tetapi, tentu saja saya juga masih dalam proses untuk itu. Semua itu mudah untuk dikatakan (atau dalam tulisan ini berarti 'mudah dituliskan') tapi sulit dilakukan. Ya sedikit demi sedikit 'lah.
Sumber: Tima Miroshnichenko with Pexel
Akhirnya, demikianlah ego. Sebisa mungkin kita berdamai dengannya. Apa yang sebenarnya ego inginkan, kita berusaha introspeksi dan kontemplasi. Kita coba pahami maksudnya. Ego itu pasti berpihak pada kita, hanya kadang sudut pandangnya atau caranya yang salah. Lalu kita coba pahamkan, sadar diri, berusaha manusiawi, dan melihat kenyataan. Kita coba lebih banyak menahan diri dan lebih banyak memperhatikan orang lain, lebih peduli pada orang lain.
Penutup
Mungkin saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah adegan dalam film. Sedikit spoiler memang, tapi film ini sendiri film terkenal yang rilisnya sudah beberapa tahun yang lalu. Dalam The Guardian of The Galaxy Vol. 2, saat Starlord sadar bahwa ayahnya itu bukan makhluk yang baik, maka ia menembakinya. Dan si ayah setelah itu berkata kira-kira seperti ini, "Dan ini yang kudapat setelah berusaha mencari wujud yang cocok dengan apa yang kau inginkan?". Mengingat kharakter ayah bernama Ego, adegan ini memberi gambaran itulah ciri utama ego manusia. Ego atau 'Ego' hanya memikirkan dirinya sendiri, apa yang ia lakukan dan apa yang seharusnya ia dapat. Ia tidak memikirkan tentang orang lain.
Namun, hati manusia itu tidak hanya tersusun dari ego. Dalam hati kita semua juga ada cinta dan kasih sayang. Dan masing-masing unsur itu ada jumlahnya sendiri-sendiri.
Kira-kira seperti itu tulisan kali ini. Setelah selesai saya jadi merasa saya kurang PD. Saya merasa terlalu banyak menjelaskan, sehingga tulisan ini jadi terasa membingungkan dan justru menyesatkan. Semoga hanya ketakutan saya saja. Bagaimanapun, semua ini hanya opini saya saja. Bisa saja benar, bisa juga salah. Semoga ada manfaatnya bagi kita semua. Kalau ada salah-salah, atau menyinggung perasaan (semoga tidak), saya mohon maaf. Boleh sekali hubungi saya kalau mau koreksi. Boleh juga diskusi tentang ego ini 'lho! Itu merupakan salah satu alasan saya menulis tulisan ini. Saya ingin mendapat sudut pandang lain tentang pemikiran saya ini.
Okey, sampai jumpa lagi! Bye bye!
