Okey, semenjak tidak banyak yang bisa saya kerjakan sekarang, mari kita tulis lagi post untuk blog ini. Kali ini, tidak jauh-jauh dari dunia film, kita akan membahas tentang beberapa sutradara favorit saya, terkhusus sutradara Hollywood.
Kalau bicara film, tentu erat kaitannya dengan sutradara. Merekalah yang menentukan sudut pandang dan cara bercerita dari film. Karena itu, terkadang ada ciri khas yang dimiliki film-film dari sutradara yang sama. Makanya, saya sendiri sering mendasari menonton suatu film dari sutradaranya.
Mengapa harus sutradara Hollywood? Karena film-film Hollywood yang sering saya tonton. Lhah, berarti ga pernah nonton film Indonesia donk?! Tentu pernah, bahkan lumayan banyak juga film Indonesia yang saya tonton. Masalahnya memang tidak sebanyak nonton film Hollywood. Saya sedari kecil sudah nonton film dari TV dan kaset-kaset yang disewa Bapak. Tahu sendiri 'kan kalau film-film di TV itu biasanya Hollywood? Selain itu, informasi tentang film-film Hollywood itu lebih banyak dibandingkan film-film lain. Misalnya, kita bisa langsung mengakses IMDb untuk mencari data hampir semua film Hollywood, atau bisa dikatakan juga data semua film Hollywood yang terkenal. Makanya saya bisa mencari-cari film-film berdasarkan sutradara tertentu.
Sutradara di daftar ini sangat dipengaruhi selera saya tentang film. Saya suka film-film yang dark, kelam, misterius, yang ngeri-ngeri gitu. Bukan horor juga sih, karena saya tidak terlalu suka ditakut-takuti. Lebih ke gaya film yang membuat kita merasa bingung. Menurut saya, yang seperti itu terasa seni. Ya begitulah, sulit juga ternyata untuk menggambarkannya. Mungkin akan lebih kebayang di penjelasan selanjutnya dengan menyebutkan film-film yang dimaksud.
Baiklah, untuk tulisan ini tidak banyak yang akan saya sebutkan. Hanya ada empat sutradara. Itu karena mungkin pengetahuan film saya yang masih minim, jadi belum tahu banyak tentang sutradara-sutradara yang gaya filmnya cocok dengan saya. Saya tidak pernah menutup diri saya untuk menyukai sutradara-sutradara yang baru atau baru saya tahu di masa depan. Mungkin akan ada tulisan lanjutan setelah ini. Sedikit catatan, urutan sutradara di sini tidak menggambarkan urutan kesukaan saya, atau urutan yang ter-The Best, atau urautan apapun.
Christopher Nolan
Sumber: IMDb
Sutradara ini mungkin yang paling banyak saya sebut di blog ini. Christopher Nolan memang pernah jadi sutradara paling favorit saya, sayangnya memang sekarang saya tidak punya sutradara paling favorit sih. Mengapa saya suka? Tidak lain dan tidak bukan karena dulu film-filmnya Mr. Nolan ini pasti misteri yang mikir. Yang paling terkenal mungkin adalah Inception (2010), dengan meme mimpi dalam mimpi dalam mimpi dalam mimpi. Film itu super populer, karena ceritanya yang rumit yang tidak mudah dipahami semua orang.
Inception (sumber: IMDb)
Sejak saya menonton film ini, saya lalu mencari-cari film lain dari Mr. Nolan. Saya lalu menonton Following (1998), Memento (2000), The Prestige (2006), menyelesaikan film-film Batman dalam The Dark Knight Trilogy, dan Interstellar (2014). Jujur, saya dulu memang penyuka film-film mikir, pokoknya yang berbaru kriminal yang perlu mengumpulkan informasi, menganalisa, dan membuka misteri. Atau bisa juga tentang dunia yang aneh yang punya banyak aturan rumit nan logis yang perlu dipelajari sebagai dasar cerita.
Sebenarnya tidak hanya film-filmnya Christopher Nolan yang begitu. Hanya saja, kalau dari sang sutradara ini, film akan mampu bernarasi dengan baik, logika bisa diterima, sehingga film tersebut tetap masuk akal. Karena sering, film yang bertema mikir itu ceritanya maksa, dengan ending yang datang entah dari mana. Menurut saya, Mr. Nolan mampu menyampaikan detail informasi di antara adegan-adegan, baik berupa aksi laga atau drama, yang membuat penonton tetap punya kesempatan untuk memahaminya.
The Dark Knight (sumber: IMDb)
Mungkin yang paling khas dari Mr. Nolan adalah alur non-linear. Yang paling terlihat yakni Memento, The Prestige, juga kalau boleh saya bilang Tenet (2020). Saya juga tidak yakin apakah ini membuat film menjadi lebih mudah dipahami, atau justru lebih sulit dipahami. Ide cerita dari film-film tersebut sebenarnya sudah cukup rumit, jadi bukan semata-mata alur non-linearnya. Mungkin kalau tidak melihat dari kerumitannya, teknik non-linear ini membuat pesan film lebih mudah tersampaikan. Ya, saya rasa begitu.
David Fincher
Sumber: IMDb
Mungkin kalau sekarang ini ditanya film baru yang mana yang membuat saya paling antusias, mungkin film dari sutradara ini. Apakah berarti dialah sutradara paling favorit saya? Entahlah. Saya tadi sebutkan bahwa saya tidak punya sutradara paling favorit. Sekarang saya merasa bisa menjelaskan mengapa. Karena, terkadang menyukai sesuatu itu membuat kita kecewa. Misal kita suka sekali pada seorang sutradara, maka kita berharap filmnya yang baru. Namun, film itu lama sekali tidak keluar-keluar. Sehingga kita kecewa. Malah ngomong apa ini, hehehe.
Okey, mungkin akan saya bilang saja style sutradara ini yang paling cocok dengan selera saya. Jadi, gaya khas yang sering digunakan oleh David Fincher itu yang sifatnya kelam dan misterius. Misalnya saja yang paling terlihat itu The Girl with The Dragon Tattoo (2011) dan Gone Girl (2014). Visual dari film-film ini terlihat gelap, berkat tata pencahayaan dan sudut kamera yang dibuat menghadap ke bayangan. Musik terdengar menegangkan, lalu adegan-adegan dibangun sedemikian rupa sehingga terasa ngeri setiap menyibak misteri yang ada.
Gone Girl (sumber: IMDb)
Film lain misalnya Se7en (1995), itu malah jauh lebih mengerikan lagi. Terdapat adegan-adegan yang memperlihatkan atau menceritakan tentang pembunuhan-pembunuhan sadis yang membuat para penonton jadi lemas. Kejamnya itu kejam banget! Kemudian ending film yang mampu membuat orang mind blown, saya rasa juga berkat gaya bercerita yang baik dari sang sutradara.
Bicara tentang ending mind blowing, yang paling saya suka dari David Fincher adalah Fight Club (1999). Film ini punya gaya yang sama dengan film-film lainnya, dan bagusnya lagi ceritanya memang cocok dengan gaya itu. Cerita tentang kehidupan pekerja kantoran yang tertekan dengan pola hidupnya. Lalu ia menjadi terlibat dengan seorang yang tidak jelas, masuk ke kelompok tidak jelas, hidupnya makin tidak jelas. Gaya gelap ditunjang juga dengan gaya kotor, terlihat dari lingkungan sekitar yang jorok.
Fight Club (sumber: IMDb)
Tidak semua filmnya David Fincher itu misteri. Ada juga The Curious Case of Benjamin Button (2008). Film ini berjenis drama kehidupan bercampur kisah romansa. Bagi saya sekalipun film ini bukan film dark dan misteri, tapi saya tetap suka. Bukan terlalu karena sutradaranya sih, tapi lebih ke cerita dan aktor-artisnya. Namun, David Fincher tetap sutradaranya, tetap berperan penting dalam film ini.
Denis Villeneuve
Sumber: IMDb
Kalau sutradara ini mungkin yang paling baru saya tahu dibanding yang lain. Mengapa saya suka film-filmnya Denis Villeneuve? Karena gayanya juga dark, mirip-mirip David Fincher. Ada beberapa film yang sudah saya tonton dari sutradara ini, antara lain Prisoners (2013), Sicario (2015), Arrival (2016), Blade Runner 2049 (2017), dan Dune: Part One (2021). Dari semua itu, yang paling saya suka adalah Sicario. Maka, mari kita bahas mulai dari sana.
Sicario (sumber: IMDb)
Sicario bercerita tentang dua orang polisi yang bergabung dengan tim khusus untuk menyelidiki suatu kartel Meksiko yang berbahaya. Tim itu bukan tim biasa, dan semakin lama mereka di dalamnya, semakin jelas tim apa sebenarnya orang-orang itu. Film ini penuh dengan kengerian, yang paling berkesan adalah adegan di gerbang masuk Amerika. Terjadi ancaman baku tembak, yang perlu tindakan tegas. Suasana yang dihasilkan sangat mencekam, karena bisa saja ada tembakan dari mana saja dan ke mana saja. Adegan ini terasa realistis, dan kita jadi bisa merasa ngeri dengan baku tembak. Kalau di film-film lain, mungkin ini hal biasa yang tidak terlalu mengerikan. Di film ini, sangat ngeri! Ngeri yang entah mengapa saya suka, terasa artistik.
Denis Villenueve memang sering membuat film-film yang thrilling. Sepertinya semua film yang saya sebutkan di atas seperti itu deh. Okey, mungkin ciri khasnya itu adalah gaya bercerita yang bertempo lambat. Selain itu, filmnya sendiri tidak naratif, tapi lebih memperlihatkan adegan per adegan. Yang paling terasa mungkin di Prisoners. Jadi, film-filmnya itu seakan-akan menghisap penontonnya untuk masuk ke dalam film sedikit demi sedikit. Kecuali mungkin Dune yang temponya cukup cepat karena berdasarkan materi cerita yang padat. Yah, intinya adegan-adegan yang terasa lambat, yang membuat frustasi.
Bagi penyuka film, mungkin akan suka sekali dengan sutradara yang satu ini. Namun, jika hanya penikmat film biasa, yang tidak terlalu ingin ambil pusing saat menonton film, mungkin akan kesulitan untuk menikmati film-filmnya. Pengalaman saya, saya menonton Blade Runner 2049 bersama teman-teman saya sekontrakan dulu. Kalau menurut pendapat saya, film ini bagus, punya gaya yang artistik dan cara bercerita yang menarik. Tapi sepertinya teman-teman saya tidak seantusias saya. Jadi, memang film-film dari sutradara ini bukan yang heboh, memikat dan bisa sesuai bagi banyak kalangan.
Blace Runner 2049 (sumber: IMDb)
Guy Ritchie
Sumber: IMDb
Setelah bicara tentang sutradara bergaya dark dan serius, saya akan beralih ke sutradara yang lebih fun dan playful. Meskipun ada unsur dark-nya juga, tapi sutradara yang ini punya beberapa film yang lumayan komedi asyik.
Beberapa film yang disutradarai Guy Ritchie yang sudah saya tonton adalah Snatch (2000), Sherlock Holmes yang versi Robert Downey Jr. (2009), Sherlock Holmes: A Game of Shadows film lanjutannya (2011), The Man from U.N.C.L.E. (2015), King Arthur: Legend of the Sword (2017), The Gentlemen (2019), dan Wrath of Man (2021).
Sherlock Holmes (sumber: IMDb)
Menurut saya, sutradara yang satu ini punya gaya bercerita yang terkesan lucu, santai, sekalipun suasananya serius. Biasanya, ada bagaian yang menonjolkan keunikan dari unsur film. Misalnya dalam Sherlock Holmes, maka akan ada adegan-adegan yang memperlihatkan kerangka berpikir/deduksi dari sang detektif. Selain itu, ada juga gaya menyusun adegan yang seru dan menghibur. Misalnya The Man from U.N.C.L.E. dak King Arthur yang punya banyak adegan action yang dibuat semi komedi. Khusus untuk King Arthur, ada juga adegan kejar-kejaran yang menurut saya terkesan modern dengan kamera yang mengikuti tokoh-tokohnya, padahal ini film legenda zaman dulu. Ya begitulah, kebanyakan film-filmnya Mr. Ritchie itu menyenangkan.
Ada juga gaya yang menghasilkan dark comedi. Misalnya di Snatch dan The Gentleman. Tetap seru, tapi ada sisi dark-nya. Misal di Snatch itu mempertemukan antara gengster, pencuri berlian, dan pertandingan tinju menjadi sebuah konflik yang kacau. The Gentlemen sendiri adalah film tentang kompetisi pasar ganja oleh gengster yang diinterupsi pihak-pihak yang tidak diinginkan. Tema cerita yang kriminal membuat ada sisi jahat dan kejam di cerita. Namun, gaya cerita tetap berfokus pada komedi dan keseruan.
Snatch (sumber: IMDb)
Pengecualian untuk Wrath of Man. Film ini full-blown serius. Dari awal sampai akhir, ceritanya berusaha untuk memperlihatkan kesedihan, frustasi, kebencian, dan kemarahan.
Penutup
Tulisan ini murni dari pemikiran saya sendiri. Karena itu, mungkin banyak analisis di sini yang sok tahu, terkesan mengada-ada, dan bahkan salah total. Saya mohon maaf sebelumnya. Namun, kerena itu pemikiran saya, saya rasa tetap patut untuk saya kemukakan dengan orang-orang. Siapa tahu ada yang setuju, siapa tahu ada yang membenarkan, dan siapa tahu ada yang bisa menyalahkan hingga mengoreksi hingga saya bisa belajar ilmu baru. Saya terbuka untuk apapun.
Kemudian, saya menyampaikan ide bahwa film itu hiburan yang bisa dinikmati dengan berbagai cara. Mungkin yang paling banyak dilakukan orang adalah menontonnya saja, mungkin di bioskop, atau mungkin juga di layar TV di rumah. Namun, film juga bisa dinikmati dengan melihat detail-detail pembuatannya. Misalnya gaya mengambil gambar, musik dan efek suara, atau acting dari pemain-pemainnya. Karena itu ada award seperti Oscar atau Piala Citra. Dan yang terpenting adalah, tidak ada yang salah dengan bagaimanapun kita mau menikmati film. Bukan berarti yang menonton saja itu kurang berbudaya atau kurang terpelajar, bukan berarti yang suka menganalisa itu kutu buku yang menyebalkan (tapi kemungkinan besar iya :-)), dan bukan berarti yang tidak suka film sama sekali itu salah. Sah-sah saja, ini hanya film, hanya hiburan. Saya ingin mendorong agar para pembaca sekalian lebih mengenal diri kita masing-masing, apa yang kita sukai, apa yang kita inginkan, begitu juga bagaimana kita mendapatkannya. Dan sebelum kita memikirkan hal yang berat-berat, kita mulai dulu dari hiburan, mulai dari film. Duuuh, kok berat banget paragraf ini! Semoga tidak pada pusing yak, hehehe.
Ya, kita sampai di penghujung tulisan. Terima kasih sudah membaca dari awal sampai akhir, mohon maaf kalau ada salah-salah kata atau salah tulis. Semoga tulisan ini bermanfaat, dan mari kita bertemu lagi di kesempatan yang lain. Bye bye!
