Halo-halo semuanya, selamat datang di website pribadi Indra 'Naftena' Kurniawan! Kali ini kita akan membahas film yang sedang viral nih, yaitu Sore: Istri dari Masa Depan. Bagi yang sudah pernah mengunjungi website ini, pasti tahu bahwa saya paling suka dengan yang namanya film. Kebetulan juga, saya baru-baru ini menonton film ini, dan kebetulan lagi film ini ternyata viral. Memang bagus filmnya, Joni - salah satu teman baik saya yang penyuka film - membenarkan hal itu. Kalau menurut saya, memang pantas sih kalau film ini viral. Ada banyak sisi menarik yang membuat saya kagum saat menontonnya, yang sangat mungkin membuat penonton-penonton lain merasa yang sama. Apa saja sisi-sisi menarik tersebut? Okay langsung saja kita bahas!
Film yang benar-benar film (gaya bercerita audio-visual)
Kita mulai dari gaya bercerita dulu, satu hal yang sangat sederhana dan dasar tapi paling penting dalam semua jenis media cerita. Gaya bercerita film ini spesial menurut saya. Tidak banyak narasi yang disampaikan narator atau monolog maupun dialog tokoh-tokoh, tapi alur dan informasi lebih banyak ditampilkan dalam adegan dan gambar. Sehingga pengalaman menonton filmnya lebih dapet.
Ambil contoh adegan pembuka yang memperlihatkan kapal yang menembus lapisan es. Adegan ini cukup membingungkan tapi lama-kelamaan menjadi jelas dengan gambar dan suara. Setelah itu terlihat Jonathan (diperankan Dion Wiyoko) yang baru saja bangun tidur di kapal. Dari gambar, penonton bisa melihat bagaimana keadaannya saat baru bangun tidur dan memperkirakan kondisi badan dan perasaannya. Lalu adegan berlanjut dengan dia mempersiapkan kamera, kemudian langsung ke luar di atas es lengkap dengan baju tebal dan mulai foto sana-sini. Tidak ada narasi, tidak ada kata-kata terucap, hanya gambar dan suara serta latar suasana yang menyampaikan apa yang ingin diceritakan.
BTS Adegan Pembuka Film Sore (sumber: Instagram Cerita Film)
Contoh lain adalah penggunaan 'kode pakaian' untuk mempermudah penonton dalam memahami alur. Film ini tentang seorang istri yang kembali ke masa lalu untuk mengubah suaminya, sehingga berarti terdapat konsep mempermainkan waktu seperti film-film di tulisan saya yang dulu. Nah, si pembuat film juga menyertakan teknik bercerita yang tidak linear, untuk membuat kesan 'dari masa depan'-nya semakin kuat. Teknik tidak linear ini sering kali sulit dipahami, apalagi bagi para penonton film yang hanya ingin hiburan di waktu senggangnya. Karenanya (kalau saya tidak salah) di setiap adegan yang berbeda, para tokohnya menggunakan pakaian yang berbeda pula. Sehingga setiap adegan di waktu yang berlainan bisa dibedakan dengan lebih jelas, juga penonton dapat lebih mudah juga mengingat adegan yang telah lewat.
Saya memang tidak bisa terlalu banyak membandingkan dengan film-film Indonesia yang lain, karena saya akui saya lebih sedikit menonton film Indonesia dibandingkan film Hollywood. Namun menurut saya, film ini unik dan cukup berani. Saya orang yang mengidentikkan penonton negeri ini dengan penikmat sinetron. Sinetron sendiri identik dengan cara bercerita yang malas dengan terlalu banyak menjelaskan. Kalau di sinetron, tokoh-tokohnya bicara sendiri bahkan kata hatinya disuarakan. Maka penontonnya jadi sangat pasif, seakan-akan disuapi dengan cerita. Jadi, apa iya film Sore ini bisa diterima? Bagaimanapun, film ini sudah menunjukkan cara bercerita yang memang khas film yaitu dengan membawa suasana yang dialami tokoh langsung ke penonton.
Film yang niat dalam pembuatannya
Pembahasan selanjutnya kita mengarah ke unsur-unsur pembentuk film. Menurut saya, Sore ini adalah film yang dibuat dengan sungguh-sungguh. Jadi, tidak asal ada tontonan selama dua jam lebih, yang disusun ala kadarnya saja, hanya sebagai bisnis belaka. Setidaknya ada tiga elemen yang bisa kita bahas untuk menunjukkan hal ini antara lain sinematografi, acting para pemain, dan soundtrack.
Dari sisi sinematografi, marilah kita membahasnya secara awam saja, karena saya sendiri juga tidak ahli di bidang ini. Saya akan menceritakan detail-detail yang berkesan bagi saya mengenai teknik pengambilan gambar. Dimulai dari cara menangkap pemandangan, menurut saya para kameramennya lumayan pintar. Beberapa latar adegan yang indah misalnya di kutub, daerah pantai, salah satu kota di Kroasia, di trem (seperti terlihat di trailer), juga pameran foto, semua itu dapat tersimpan keindahannya. Kemudian, menurut saya lagi para perekam gambarnya itu tidak malas untuk melakukan close up. Entah benar atau tidak, kebanyakan film di negara ini banyak melakukan pengambilan gambar lebar. Tujuannya mungkin untuk memperlihatkan semua tokoh serta latar sehingga tidak harus banyak mengganti-ganti shot dalam satu adegan. Nah, kalau di Sore itu banyak dilakukan pengambilan gambar yang dekat ke wajah tokoh, lalu banyak juga perubahan kamera. Makanya, film jadi lebih memperlihatkan ekspresi dari tokoh. Para tokohpun jadi terasa lebih dekat dengan penonton. Mantab sih ini, hehehe. Sehingga secara keseluruhan, teknik pengambilan gambar ini sangat mendukung dalam gaya berceritanya, yang barusan kita bahas. Selain itu, pengambilan gambar tokoh secara dekat juga lebih memperlihatkan acting dari para pemainnya.
Okey bicara tentang acting, maka marilah kita bahas menganai yang satu itu. Sekali lagi, kita bahas secara awam saja, karena saya juga bukan aktor, sutradara, apalagi pembuat film. Hanya penggemar saja, hehehe. Kalau menurut saya, acting kedua pemeran utama sangat bagus sih. Mungkin parameter yang mudah untuk dibicarakan di sini adalah seberapa kita bisa ikut merasakan apa yang dirasakan setiap karakter. Kita awali dari Jonathan, seperti urutan di film. Di cerita, Jonathan ini adalah orang yang tidak memperhatikan kesehatannya. Bukan spoiler ya, karena saya yakin orang-orang juga sudah tahu dari mini-series-nya delapan tahun yang lalu. Pasti sudah tahulah kalian garis besar ceritanya. Namun, di film lebih dieksplorasi lagi. Kita jadi disodorkan lebih banyak data dan informasi. Nah, data hanya sekedar data. Mereka semua tidak akan mempengaruhi perasaan kita sebagai penonton. Yang akan mempengaruhi kita adalah bagaimana data itu bisa mempengaruhi apa yang terjadi kepada tokoh yang ada di film itu. Lalu barulah perasaannya itu perlu disampaikan ke penonton. Di sinilah peran Dion menjadi sangat penting. Lagi dan lagi, dengan embel-embel 'menurut saya', sang pemain Jonathan ini sudah memberikan penampilan yang sangat baik. Saya bisa merasakan apa yang dirasakan tokoh ini, bagaimana sulitnya, sedihnya, dan bagaimana upayanya untuk masalah-masalahnya. Salut sih, memang kalau pemain film tulen itu beda ya sama pemain FTV, tapi kalau mau jadi pemain film mungkin memang harus belajar dari FTV dulu. Semua itu ada tahap dan prosesnya. Lha kok malah jadi ngurusin FTV sih? Maaf ya teman-teman, bercanda, hehehe. Intinya karakter Jonathan telah berhasil membuat kita ikut merasa susahnya merubah kebiasaan (apalagi yang buruk). Lanjut karakter Sore. Nah ini nih, ini yang utama. Judulnya aja Sore, ya pasti dialah pusat cerita. Secara garis besar, Sore adalah istri dari masa depan (sudah pasti, 'kan memang juga tercantum dalam judul), yang berusaha merubah calon suaminya kelak untuk berubah sehingga berpola hidup sehat. Nah di sini kita tidak hanya sekedar dapat informasi dan data seperti di Jonathan, tapi kita memang disuguhi secara jelas adegan per adegan bagaimana usahanya dalam mengusahakan kebaikan untuk suami tercintanya itu. Adegan memang lebih kuat dari data, tapi tetap saja acting pemainnya juga penting dalam menyampaikan pesan perasaan. Dan di film ini, Sheila Dara sudah membuat saya berkaca-kaca (aduh jadi malu hehehe). Sisi kesabaran menahan amarah, juga sisi keputusasaan yang tercermin dalam perangainya di pertengahan film, itu semua membuat saya simpatik pada karakternya itu. Istri saya juga mengamini lho, hehehe. Ada di suatu adegan dia harus pura-pura tidak kenal sama Jonathan, dan itu benar-benar membuat saya sedih. Ada juga adegan dia perlu secepatnya mengambil tindakan, tapi dia wajib bilang bahwa semua itu sesiapnya calon suaminya itu aja. Dan banyak momen-momen lain yang memperlihatkan acting yang baik dari pemain Sore ini.
Acting Dion dan Sheila di Film Sore (sumber: Youtube Cerita Films)
Lanjut ke soundtrack atau yang mungkin istilah yang lebih tepat adalah score. Di sini mungkin kita bahas secara singkat saja, sekaligus seperti yang lain kita bahas secara awam. Untuk masalah musik saya tidak terlalu paham dan bukan seorang yang suka mengamati. So, secara garis besar saja ya, hehehe. Menurut saya, lagu-lagu yang dipilih atau dibuat memang bagus sih. Semuanya bisa memperkuat suasana yang ingin disampaikan di setiap adegan. Teman saya Joni saja bilang bahwa salah satu score itu 'magical' (hmmmm, manarik juga pemilihan katanya). Yah itu saja pembahasannya, cukup saya rasa, karena saya tidak tahu lagi apa yang perlu dikomentari dari musiknya. Maaf ya, bener-bener ga paham soalnya. Mungkin tambahannya adalah editingnya. Kapan lagu masuk dan berhenti, menurut saya cukup bagus. Terkadang dalam satu adegan itu perlu menonjolkan suara-suara lingkungan, sehingga membuat penonton memahami latar tempatnya. Lalu, musik perlu masuk di waktu yang tepat saat ingin mengarahkan perasaan. Keduanya sangat diperhatikah di film ini, yang membuat saya sangat mengapresiasinya. Karena saya sendiri merasa kadang pembuat film itu asal saja dalam memasukkan musik atau lagu. Yang penting gaduh dan asik, itu aja, tanpa memperhatikan konteks dan suasana dalam film. Ya itu saja, cukup lah ya komentar saya tentang musik. :)
Suasana Cerita yang Sepertinya Kenal
Masalah cerita adalah masalah yang paling saya perhatikan saat saya menikmati suatu media prosa. Entah itu novel, cerpen, roman, atau adaptasinya seperti film dan serial bersambung. Bukankah cerita merupakan esensi dari suatu media cerita? Apa yang jadi masalahnya, bagaimana itu mempengaruhi kehidupan tokohnya, dan bagaimana semuanya berjalan pada akhirnya. Nah, di film Sore ini juga sama, saya sangat memperhatikan ceritanya. Harus saya akui, alasan saya membuat tulisan yang mengomentari film ini adalah karena ceritanya.
Apakah karena ceritanya bagus? Ya, tentu saja ceritanya bagus. Apakah bagus banget? Mungkin boleh dikatakan seperti itu. Menurut saya, ceritanya bagus saja, bukan yang membuat saya saya tergila-gila dan super kagum. Lantas apa yang berkesan bagi saya dari ceritanya? Tidak lain dan tidak bukan adalah bentuknya yang tidak asing. Saat menonton film ini, saya langsung ingat film-film terkenal yang pernah saya nikmati dulu. Cerita yang tidak linear khas Christopher Nolan, fenomena antariksa dari film anime paling terkenal dari Jepang, dan ending nostalgia yang memunculkan nuansa seperti di Lala Land, tidak dengan sengaja muncul begitu saja dalam pikiran. Batin saya dalam hati, "Ini film yang buat kutu buku atau apa? Kutu film gitu?" Saya merasa unsur-unsur film berkelas membentuk cerita film ini sehingga menjadi menarik dan menyenangkan untuk dinikmati.
Salah Satu Adegan di Film Sore (sumber: Youtube Cerita Films)
Saya bukannya menuduh pembuatnya kurang kreatif. Saya sendiri merasa ceritanya tidak nyontek atau meniru film terkenal. Hanya beberapa elemennya saja, itupun mirip alias tidak sama. Menurut saya, kadang ada jenis karya seni yang memang terinspirasi dari karya seni yang pernah ada sebelumnya. Selama tidak menyalahi aturan, membuat karya yang punya unsur mirip dengan karya sebelumnya adalah cara yang baik untuk memperkaya karya itu sendiri.
Okey kembali lagi, unsur-unsur berkelas dalam film ini lagi-lagi menimbulkan pertanyaan yang sama seperti di pembahasan sebelumnya, apakah orang Indonesia tempatnya sinetron-sinetron kejar tayang bisa menerima film jenis beginian? Kali ini, tidak hanya pertanyaan kosong, kita coba bahas di bagian selanjutnya di bawah ini.
Momen yang tepat (tontonan zaman sekarang yang time traveler, trauma/mental health)
Apakah orang Indonesia bisa menerima? Jawabannya adalah IYA! Namun, kira-kira mengapa? Apakah mungkin saya terlalu underestimate orang-orang Indonesia? Bisa jadi, karena sebenarnya orang Indonesia itu sangat bervariasi. Ada yang memang sukanya itu nonton acara TV gibah-gibah ria, tapi ada juga yang suka nonton berita politik-kriminal-ekonomi. Ada yang biasanya baca teenlit lokal, tapi ada juga yang baca buku-buku import yang best seller (so bahasanya tetep bahasa asing). Okey, saya akui memang tidak bisa pukul rata. Bagaimanapun, mayoritas orang Indonesia itu tetaplah yang sering ngikut trend saja menurut saya, yang tidak benar-benar berkelas. Saya sendiri, sebagai orang Indonesia, kadang merasa perilaku saya itu rendahan, kadang juga memikirkan gengsi, kadang memang cukup berkelas juga. Jadi, munculnya film Sore ini dalam ketenaran pasti ada alasan lain. Nah, alasan itu adalah karena momen sekarang ini banyak hal-hal yang sesuai dengan isi ceritanya.
Yang pertama adalah time traveler. Semenjak kemunculan Avenger terutama film Avenger: End Game, topik time traveler jadi hangat diperbincangkan. Bukan hanya karena satu film besar itu saja, tapi juga karena sambungan cerita Marvel Cinematic Universe (MCU) beserta series-seriesnya yang bisa ditonton di aplikasi eksklusifnya juga melanjutkan topik cerita ini. Sebut saja Loki yang saya sendiri tidak pernah tonton, memperkenalkan TVA yang bertugas menjaga garis waktu. Lalu film kedua Doctor Strange yang mengisahkan tentang multiverse (kalo yang ini saya juga belum tonton dan tidak tahu apakah juga dipengaruhi dengan waktu, tapi sepertinya iya). Dan banyak lagi tontonan lain yang berasal dari proyek-proyek besar dan populer yang menyebabkan time travel ini sudah sangat akrab bagi masyarakat. Sekalipun topik ini tidak yang baru-baru amat (ada juga di anime dan film-film Christopher Nolan), tapi menurut saya MCU dan film-film superhero 'lah yang membuatnya dekat di kalangan penonton negeri ini. Jadi begitu Sore muncul, ya orang-orang terima-terima saja, memang sudah terbiasa dengan cerita seperti itu. Bagaimana menurut kalian, setuju tidak dengan saya?
Adegan Toko Bunga Film Sore (sumber: Youtube Cerita Film)
Yang kedua adalah trauma dan mental health. Semenjak banyaknya sosial media, kemudian media-media internet seperti podcast dan vlog, dan munculnya istilah-istilah seperti milenial dan gen Z, permasalahan kesehatan mental sudah menjadi bahan pembicaraan sehari-hari. Diawali dari orang-orang yang sering mengeluh di sosmed, lalu mulai menjalar menjadi tulisan-tulisan teori psikologi. Lalu muncul podcast yang membahas tentang bagaimana lebih bahagia atau strategi menghadapi stress. Setelah itu, "trauma" menjadi istilah yang menjadi simbol inti permasalahan sifat dan karakter. Well, dari sinilah film Sore menjadi relate bagi penonton dan membuatnya makin sesuai dengan isi pikiran orang di zaman sekarang. Saya berusaha untuk tidak membocorkan ceritanya, tapi saya rasa saya sudah melakukannya dengan pembahasan ini. Jadi, ya sudahlah ya, pasti kalian juga sudah bisa menebak. Intinya adalah, Jonathan itu sulit mengubah kebiasaannya karena ada trauma yang dimilikinya. Karena itu, yang perlu dilakukannya dan Sore adalah mencarinya dan cara untuk berdamai dengan masa lalunya itu. Ya, kira-kira seperti itu.
Untuk Tersayang, Bagaimana? (sumber: Instagram Cerita Film)
Okey, dengan kedua topik tersebut, Sore menjadi film yang update. Orang-orang tidak kesulitan dengan topik-topik yang memang sudah sering mereka lihat di layar smartphone bahkan ikut membicarakannya juga. Menurut saya pintar juga sih para pembuat Sore ini. Saya sampai bilang ke Joni, coba film ini ada delapan tahun lalu, pasti nggak akan sepopuler ini. Itu keyakinan saya, tapi saya bisa salah juga.
Penutup
Baiklah, sampai kita pada penghujung tulisan. Mungkin pembahasan banyak menyinggung tentang keraguan apakah film seperti ini bisa diterima orang Indonesia. Kita juga membahas hal yang mungkin menjawab keraguan tersebut. Tapi, mungkin juga penerimaan film Sore ini juga karena kualitas film Indonesia sudah semakin bagus, dan semakin bisa diterima masyarakat. Ini saya rasakan dari banyak film-film dalam negeri yang terkenal dan viral tapi memang bagus menurut para kritikus. Satu contoh yang awalnya membuat saya berpikir seperti itu adalah Pengabdi Setan yang pada waktu itu memang banyak menuai pujian. Hal ini menunjukkan masyarakan penonton di Indonesia sudah semakin naik kelasnya. Kerena itu, saya berharap kita sebagai penikmat film ikut support perfilman di Indonesia, antara lain dengan menonton film-film bagus karya anak negeri, jangan sampai hanya menonton film-film luar saja. Begitu juga, jika memang ada film dalam negeri yang kurang bagus dan hanya jual kontroversi, ya jangan ikut ngelarisin. Lebih selektif lah intinya. Sehingga, para pembuat film jadi lebih termotivasi untuk meningkatkan kualitas film mereka, karena hasilnya dihargai langsung oleh para penikmatnya.
Okey, itu saja yang bisa saya bagikan, semoga bermanfaat. Have a nice day Guys!
