Agatha Christie adalah salah satu penulis paling terkenal sepanjang masa. Buktinya, teks tentang dirinya dijadikan bahan listening section tes Bahasa Inggris yang pernah saya ikuti di sekolah. Saya lupa apakah itu Ujian Nasional, try out-nya, atau tes Bahasa Inggris lain semacam TOEFL. Yang menarik, dalam teks itu disebutkan bahwa ia merupakan penulis paling terkenal kedua setelah William Shakespeare. Begitulah seingat saya.
Saya sendiri menganggap Agatha Christie sebagai penulis yang paling saya sukai. Mulai dari SMP dulu hingga sekarang, saya tetap suka membaca karya-karyanya. Setiap kali merasa resistance untuk membaca, saya cari novel karangan Agatha Christie sebagai 'pelumas' agar dorongan membaca mudah timbul lagi. Kalaupun saya malas sekali membaca, Agatha Christie juga punya buku-buku kumpulan cerita pendek yang lebih mudah lagi untuk dibaca.
Agatha Christie terkenal sebagai The Queen of Crime alias Ratu Kriminal, mengingat cerita-cerita yang ia buat bertema kriminal, terutama cerita detektif yang mengungkap misteri pembunuhan. Memang tidak semua karyanya berisi kisah kejahatan, tapi yang lain-lain itu diterbitkan dengan nama samarannya.
Berkebalikan dari konsep detektif, novel-novel dan kumpulan cerita pendek dari pengarang kita ini sendiri sebenarnya punya cerita yang bisa dikatakan ringan. Mengapa demikian? Saya bisa menyebutkan setidaknya 3 alasan mengapa novel Agatha Christie itu ringan. Yang pertama mereka semua punya tujuan jelas, yakni mengungkap apa yang sebenarnya terjadi (mengungkap kejahatan). Misalnya kasus pembunuhan, berarti tentang siapa dan bagaimana. Alasan selanjutnya yaitu karakter-karakternya sederhana. Misalnya pendiam ya dia jelas pendiam, misal banyak omong ya dialognya kadang memenuhi halaman. Pernah saya dengar ada yang menyebutnya 'karakter-karakter 2 dimensi'. Tidak banyak sifat dan sisi lain dari setiap tokoh-tokohnya, yang mungkin sering ditemui di tulisan beraliran drama. Alasan terakhir adalah jalan ceritanya cepat dan lugas, banyak berisi dialog-dialog, membiarkan pembaca menelaah sendiri apa maksudnya. Tidak banyak selingan, tidak banyak persoalan-persoalan sampingan, lebih fokus ke petunjuk dan analisis untuk memecahkan kasus. Sehingga menurut saya, tidak usah terlalu serius saat membacanya.
Sebaliknya, buku-buku ini malah menjadi semacam sinetron berbentuk huruf-huruf. Makanya kalau ada dari kalian yang sudah bosan dengan sinetron dan mencari sesuatu kegiatan yang lebih 'berkualitas', mungkin membaca novel Agatha Christie bisa jadi pilihan.
Bagaimanapun, alasan utama kita kembali lagi untuk membaca buku Agatha Christie adalah ending di luar dugaan, sekaligus unik. Baik itu kasus-kasus pembunuhan yang diselidiki detektif terkenal atau yang diusut nenek-nenek desa tukang gosip, cerita unik agensi pemberes masalah tak wajar, cerita pasangan mata-mata, hingga kisah-kisah kriminal berbau mistis, tidak ada perbedaan yang berarti. Yang kita harapkan pasti ingin merasa mind-blown. Itulah yang kita inginkan, dan itulah yang kita dapatkan. Sehingga lebih cocok rasanya kalau membahas beberapa buku dalam 1 tulisan saja. Makanya pada kesempatan ini, saya akan membahas lima novel dengan tokoh detektif yang paling terkenal dari Agatha Christie, yakni Hercule Poirot. Novel-novel ini baru saja saya baca, jadi masih fresh di ingatan.
Agar menarik, saya akan memberi ranking dari kelima novel ini berdasarkan tingat kesukaan saya. Btw, susunan daftar ini saya buat sesuai dengan waktu saya membaca, sedangkan rangkingnya akan saya tulis di pembahasan tiap-tiap novel. Mari langsung saja ini dia daftarnya.
Perjanjian dengan Maut (Appointment with Dead)
Langsung saja tanpa banyak basa-basi, novel ini bercerita tentang orang-orang yang berlibur di Timur Tengah. Di antara mereka ada satu keluarga Amerika dengan ibu yang tiran. Anak-anaknya sangat tersiksa karenanya, hingga menarik perhatian dan simpati orang-orang di sekitar. Kemudian sang ibu ditemukan meninggal dengan bekas jarum suntik, semua orang tak terkecuali terlihat mencurigakan.
Sampul Perjanjian dengan Maut, lama dan baru (sumber: Gramedia.com,Gramedia.com)
Yang menarik menurut saya yaitu novel ini membuat semua orang mungkin melakukannya. Ya biasanya novel Agatha Christie begitu, tapi semua tokoh di novel ini benar-benar setara. Setiap orang punya kesempatan, karena tiap alibi tidak ada yang kuat, serta kondisi-situasi waktu kejadian cukup longgar. Celah kebohongan terbuka lebar sehingga pembaca tidak bisa yakin mana yang berkata jujur.
Yang mungkin kurang menarik jika dibandingkan novel-novel lain di daftar ini mungkin penyelesaiannya yang kurang kuat. Masih mind-blowing, karena Agatha Christie hampir tidak pernah gagal untuk saya, tapi tidak sebegitunya berkesan. Yang berkesan justru kecurigaan tiap orang yang menarik untuk disimak baik-baik. Karena itu, novel ini saya beri peringkat 4.
Kali ini agar memudahkan para pembaca, saya sediakan link iPusnasnya atau bisa juga di link iPusnas yang ini
Rumah Gema (The Hollow)
Beralih ke novel selanjutnya, Rumah Gema bercerita tentang segerombolan orang-orang kerabat jauh yang ingin menghabiskan akhir pekan di rumah pedesaan milik salah seorang keluarga yang pejabat kaya dan terpandang. Rumah mewah, pelayan-pelayan cakap, acara yang menyenangkan, suasana nyaman di tengah-tengah alam asri, tiba-tiba terjadi penembakan salah seorang suami. M. Poirot, sang tetangga yang diundang makan bersama, hampir saja menjadi saksi kejadian tragis ini. Berbagai motif muncul, tapi semuanya selalu memusat pada satu arah, masalah cinta dan kecemburuan.
Sampul Rumah Gema, lama dan baru (sumber: Gramedia.com,Gramedia.com)
Yang unik dari novel ini adalah cara berceritanya yang drama-drama. Mungkin ini novel paling drama dari pengarang kesayangan kita ini yang pernah saya baca. Kalau dulu saya pikir, cerita-cerita Agatha Christie yang terasa romantis-melankolis pasti milik Miss Jane Marpel, tapi anehnya kali ini bukan. Justru ini novelnya Hercule Poirot. Sisi positifnya, jadi terasa baru dan beda. Sebuah selingan yang unik. Hal menarik lain menurut saya entah mengapa saya suka salah satu karakter di sini. Seorang perempuan yang cerdas dan mandiri, yang handal dalam menangani masalah-masalah.
Meski begitu, gaya bercerita drama-drama ini sendiri kurang saya sukai. Sedikit bertele-tele hingga tidak cas-cus ke permasalahannya. Selain itu, penyelesaian kasusnya sendiri juga kurang wah kalau dibanding novel-novel lain. Bahkan kurang dibandingkan Perjanjian dengan Maut di atas. Namun, tetap twisted, jadi jangan khawatir. Karena dua hal tersebut, saya jadikan novel ini peringkat 5.
Ini dia link iPusnas buku ini.
Mrs. McGinty Sudah Mati (Mrs. McGinty's Dead)
Mari kita berlanjut ke buku selanjutnya. Novel yang satu ini mendasarkan cerita pada wanita pembantu rumah tangga yang tewas terbunuh di rumahnya. Seorang laki-laki yang ngekos di sana telah ditangkap dan akan segera diadili. Polisi yang menyelidiki kasus ini tidak merasa dialah orang yang melakukannya, dan meminta bantuan Poirot untuk menyelidiki lebih jauh. Ia lalu menelusuri berbagai hal di kampung tersebut, mulai dari orang-orang yang menyewa jasa Mrs. McGinty, kantor pos setempat, dan kantor di mana laki-laki tertuduh pernah bekerja sebelumnya. Hingga Poirot menduga kasus ini mungkin ada kaitannya dengan kasus-kasus berbeda yang terjadi di masa lampau
Sampul Mrs. McGinty Sudah Mati (sumber: Gramedia.com)
Novel ini merupakan hasil karangan Agatha Christie paling rumit yang pernah saya baca. Selain kasusnya Mrs. McGinty yang menyeret banyak pihak, ada kasus sebelumnya yang perlu diperhatikan. Tidak hanya satu tapi ada empat kasus, sekalipun segera setelah tahu, Poirot langsung mengeleminasi salah satu di antaranya. Lalu ada kejadian-kejadian tak terduga terjadi, semakin membuat rumit ceritanya. Ini mungkin kelebihan tapi bisa juga kekurangan, tergantung apakah pembaca novel ini semakin suka jika cerita semakin rumit atau malah sebaliknya.
Saya bingung sebenarnya apakah ini novel peringkat 2 atau 3. Saya suka kerumitannya dan jalan ceritanya yang menarik sampai akhir. Namun, mungkin karena terlalu rumit, saya rasa ini di luar ekpektasi orang yang biasa membaca Agatha Christie, sehingga saya pikir lebih tepat memberi peringkat 3.
Ini dia link iPusnas buku ini.
Pembunuhan di Malam Natal (Hercule Poirot's Christmas)
Novel ini mengisahkan momen seorang ayah yang mengundang anak-anak dan keluarganya untuk melewatkan natal bersama di rumahnya. Mereka semua datang, termasuk cucunya, ditambah lagi seorang putra dari sahabat lama. Tanpa diduga, saat malam natal terdengar suara ribut-ribut perkelahian, diakhiri teriakan mengerikan, yang datang dari kamar sang ayah. Begitu pintu didobrak, ia sudah tergeletak bersimbah darah dengan luka sayatan di lehernya. Sikap mendiang semasa hidup yang mengundang kebencian, juga kekayaannya yang berlimpah, membuat semua orang patut dicurigai.
Sampul Pembunuhan di Malam Natal (sumber: Gramedia.com)
Okey, yang berkesan dari novel ini adalah jawaban dari kasus yang sangat di luar dugaan. 'Di luar'-nya itu mungkin sampai membuat kita sedikit sebal. Namun, begitulah Agatha Christie, kalau tidak mind-blowing, ya ada yang kurang. Hingga memang kadang-kadang ada novelnya yang agak sedikit aneh seperti yang satu ini. Bagaimanapun, saya tetap suka-suka aja sih.
Nah, novel inilah yang sempat membuat saya bingung antara peringkat 2 atau 3, bersamaan dengan novel Mrs. McGinty. Namun akhirnya, karena sifatnya yang memang lebih khas Agatha Christie, jadinya novel ini yang lebih saya suka hingga berada di peringkat 2 di daftar ini.
Ini dia link iPusnas buku ini.
Pembunuhan di Teluk Pixy (Evil Under The Sun)
Baiklah, inilah peringkat 1 dari semua novel di daftar ini. Novel ini sendiri adalah novel terakhir yang saya baca. Apakah jadinya subjektif? Saya rasa tidak.
Menampilkan hari-hari Hercule Poirot yang berlibur di sebuah hotel di sebuah pulau yang indah. Di sana, ada banyak wisatawan lain. Yang paling mencolok adalah seorang istri yang cantik dari suami yang pendiam. Sang istri ini memikat perhatian semua laki-laki di sana, termasuk salah satu laki-laki yang sedang berlibur bersama istrinya. Sayangnya, ia lalu ditemukan tewas di salah satu pantai di pulau itu, tergeletak dengan bekas tangan mencekik lehernya. Mengingat banyak orang melakukan kegiatannya masing-masing, tidak ada yang luput dari kecurigaan. Kasus semakin membingungkan setelah merunut motif yang bisa berupa kecemburuan, pemerasan, fanatik agama yang ingin menghapuskan dosa, hasrat maniak pembunuh yang berkeliaran bebas, hingga kemungkinan transaksi barang terlarang.
Sampul Pembunuhan di Teluk Pixy (sumber: Gramedia.com)
Apanya yang hebat? Novel ini punya pemecahan masalah yang sangat di luar pikiran. Tidak hanya mengenai identitas pembunuh, tapi juga menyangkut aspek-aspek lain dalam peristiwa tersebut. Selain itu, seperti yang tertulis di novel ini sendiri, ceritanya bagaikan kepingan-kepingan puzzle yang perlu disusun dengan benar. Nah, kita dapatkan Hercule Poirot di akhir menceritakan bagaimana ia meletakkan kepingan-kepingan tersebut, satu demi satu hingga menjadi rangkaian yang rapi dan serasi.
Ini dia link iPusnas buku ini.
Penutup
Bagaimana menurut kalian? Apakah ada yang kurang setuju dengan rangking di atas? Siapa saja boleh berpendapat lho!
Setelah membaca sekian novel Agatha Christie, saya merasa yang khas darinya adalah ada satu bagian kasus yang penting dan menjadi fokus. Bagian ini tidak perlu sesuai dengan aturan tertentu. Kemudian bagian-bagian lain yang mengiringi dibangun dari sana dan merekalah yang harus mengikuti aturan. Misalnya jasad yang ditemukan, mungkin saja itu bukan jasad orang yang dimaksud. Nah inilah yang tidak terduga dan mungkin kurang nalar. Namun, hal-hal lain seperti cara pembunuhan, alat yang digunakan, waktu, semuanya harus nalar dan runtut. Akhirnya, ceritanya menjadi mind-blowing tapi tetap bisa diterima karena logis dan lengkap (setidaknya kesannya begitu).
Btw, saya buat pembahasan setiap buku di sini tidak terlalu panjang, agar kalian jadi penasaran dan ikut membaca. Jadi bukan karena malas ya, hehehe (pembelaan diri).
Nah, bagi yang tertarik langsung saja klik tautan iPusnas yang sudah saya cantumkan. Di sana, novel-novel ini dapat dipinjam secara digital tanpa berbayar. Memang agak kurang nyaman baca di handphone dibanding baca versi cetaknya. Kalau mau beli, di toko Gramedia mungkin ada, tergantung ketersediaannya. Mungkin kalau di toko online lebih banyak yang jual. Saya sarankan untuk mulai dari Pembunuhan di Teluk Pixy, karena novel ini yang menurut saya paling bagus dari kesemuanya.
Inilah akhir dari tulisan kali ini, mohon maaf jika ada salah-salah kata atau salah tulis. Semoga bermanfaat. Bye bye! Semoga hari-hari kita indah dan dipenuhi kebahagiaan!
