Apakah kalian merasa kesulitan belajar Bahasa Inggris? Kalian merasa hal ini membosankan dan melelahkan? Kalian merasa putus asa karena nilai kalian jelek dan akhirnya lebih benci lagi dengan Bahasa Inggris? Jangan khawatir, minum ramuan English Naftena dan masalah kalian akan teratasi!
Hahaha, bercanda bercanda.
Memang Bahasa Inggris sudah menjadi bahasa wajib di masa sekarang ini. Sekolah sudah mulai mengajarkan bahasa ini bahkan sejak kelas satu SD. Saya sendiri mungkin lebih beruntung. Di zaman itu, saya baru mendapat pelajaran ini di kelas empat. Jujur, saya merasa pelajaran ini susah, apalagi bagi otak anak-anak saya dulu. Jadi saya paham dengan semua perasaan yang saya tanyakan di atas.
Namun, di tulisan ini saya ingin berbagi tentang pengalaman yang mengubah itu semua. Satu (rangkaian) momen yang mengubah persepsi saya dengan Bahasa Inggris.
Sebelumnya, saya tidak ingin terlalu melambungkan ekspektasi kalian. Jadi pengalaman itu terjadi sewaktu saya kuliah. Beberapa hari setelah saya diterima di universitas, terdapat tes AcEPT (semacam TOEFL). Nilai saya waktu itu 222 (sekitar 460 jika dikonversi ke TOEFL). Lalu waktu berlalu dan saya lulus. Saya lalu mengikuti tes AcEPT lagi untuk masuk ke program pasca sarjana. Hasil untuk tes kedua saya adalah 342 (sekitar 560 jika dikonversi ke TOEFL). Jadi dalam waktu sekitar empat tahun, saya berhasil meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris saya, sekalipun memang hanya dalam bentuk nilai tes dan itu pun mungkin tidak begitu besar.
Namun, dalam masa-masa itu, saya menyadari mengapa saya bisa meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris saya. Ada setidaknya tiga hal yang saya sadari yang menyebabkan saya bisa memahami Bahasa Inggris dengan lebih baik. Berikut ini pembahasan mengenai dua hal tersebut.
Praktek
Mungkin kalian sudah muak dengan kata ini. Mungkin terlalu umum dan basi jika ‘praktek’ adalah cara terbaik untuk belajar apapun, termasuk Bahasa Inggris. Namun, bagaimanapun wajarnya dan umumnya hal ini, ya hal ini memang benar. Semakin banyak kita berlatih menggunakan Bahasa Inggris, maka kemampuan kita juga akan semakin baik.
Jangan ngambek dulu ya teman-teman. Di sini saya benar-benar membagi pengalaman dan bukannya memberi tahu hal yang sudah pasti.
Dalam berbahasa, biasanya ada empat elemen keahlian: mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Dari keempat itu, yang paling sederhana adalah mendengarkan. Dengan bagian inilah saya mulai bisa menikmati Bahasa Inggris.
Saya tidak mencari rekaman belajar Bahasa Inggris seperti di les-les atau pelajaran sekolah. Saya tidak merekam guru Bahasa Inggris bicara dan mendengarkannya berulang-ulang. Saya juga tidak mencari listening section dari tes-tes Bahasa Inggris semacam TOEFL dan mengerjakan soalnya. Tidak, saya tidak melakukan itu semua selama kuliah saya. Yang saya lakukan bahkan tidak sepenuhnya saya niatkan untuk belajar Bahasa Inggris. Saya hanya menonton video di Youtube yang saya sukai. Waktu itu ada dua channel yang saya paling suka, yang pertama adalah acara bincang-bincangnya Jimmy Fallon (Tonight Show Starring Jimmy Fallon) dan Saturday Night Live.
Well, saya suka film, termasuk para pemainnya. Saya juga suka mendengarkan orang bicara. Jadi acara talk show bisa dikatakan adalah acara favorit saya. Sebenarnya tidak harus Jimmy Fallon. Acara-acara talk show lain saya juga sering lihat. Namun, yang paling sering memang acara tersebut. Sedangkan untuk SNL, saya suka karena itu adalah acara komedi. Saat menonton, saya merasa ada tantangan. Jika saya berhasil tertawa, maka tidak hanya saya merasakan kelucuannya, tapi saya juga ‘mengerti’ di mana letak kelucuannya.
Kuliah - seperti yang kita ketahui bersama - merupakan masa yang tidak tentu waktu. Kadang longgar kadang sibuk. Saat saya bisa menonton Youtube, saya bisa berjam-jam dan maraton menonton Jimmy Fallon atau SNL. Itu berarti bisa saja belasan video sekali membuka Youtube. Kala itu (antara 2014-2018), Youtube tidak memiliki caption seperti sekarang. Jadi, saya harus memaksa diri saya untuk memahami apa yang mereka katakan. Terkadang saya harus mengulang suatu bagian dari video hanya agar saya bisa mengira-ira kata apa yang terucap. Dengan demikian, secara tidak sadar saya sudah berlatih mendengarkan (listening) dengan jumlah dan intensitas yang lumayan besar. Sekalipun begitu, saya tidak merasa berat. Hal ini karena saya melakukan sesuatu yang saya sukai.
Jadi, saya bisa menikmati Bahasa Inggris dengan mengaitkannya dengan sesuatu yang saya suka. Mungkin kalian bisa melakukan hal serupa. Jika kalian tidak suka talk show atau acara ‘lawak dalam studio’, mungkin kalian bisa mencari sendiri saja di Youtube. Sekarang ini Youtube memiliki algoritma untuk menyesuaikan kegemaran penggunanya dengan video yang sesuai. Pastikan saja cari video yang berbahasa Inggris, jadi kita bisa sambil belajar. Atau mungkin kalian suka anime, ini juga teknik yang saya lakukan. Pakai terjemahan (subtitle) berbahasa Inggris. Dengan begitu, kita juga sekalian belajar membaca (reading). Atau yang menarik juga adalah bermain game. Di masa sekarang sepertinya banyak sekali media yang bisa kita jadikan sumber untuk belajar Bahasa Inggris.
Intinya adalah, cobalah untuk tidak merasakan itu sebagai kegiatan belajar. Nikmati saja kegiatannya. Tumbuhkan rasa ingin tahu pada isi informasi pada kegiatan itu, alih-alih mengarahkan perhatian pada Bahasa Inggris. Inti yang lain adalah, mulailah sekarang dan dari yang paling sederhana. Jika tidak dimulai ya tidak akan terjadi.
Bagian Penerjemah di Otak
Ini adalah hal yang saya sadari di akhir. Saat saya merasa kemampuan Bahasa Inggris saya meningkat, mulai timbul ide-ide unik yang mencoba menjelaskannya. Harap maklum, saya memang suka menganalisis sesuatu, sadar maupun tidak. Ide yang paling saya sukai adalah tentang proses berjalannya bahasa.
Saat kita berbicara - atau berkomunikasi secara umum - maka kita memiliki ide yang ingin kita sampaikan. Di dalam otak, ide ini tidak berbentuk atau bisa juga dikatakan berbentuk abstrak. Kita mungkin membayangkan rasa nikmatnya gurih dan asin suatu masakan saat ibu kita bertanya mau dibuatkan apa sore ini. Atau bisa juga kita memikirkan sakit yang luar biasa yang kita rasakan semalam yang mau kita utarakan saat kita berobat ke dokter. Semua itu berupa perasaan, dan sebelum diterjemahkan ke kata-kata, maka hanyalah sebuah ingatan, ide, kenangan, atau reaksi fisik/kimia antar neuron juga senyawa-senyawa otak.
Nah, saat kita mau mengatakannya, maka otak akan menerjemahkan ide itu ke dalam kata-kata yang bisa kita - dan orang yang kita ajak bicara - mengerti. Proses ini terjadi dengan cepat dan mungkin juga tanpa terlalu kita sadari. Hal ini karena kita sudah melakukannya sejak kecil. Yah sampai di sini, sekali lagi saya ingatkan, semua ini hanya gagasan saya saja. Lanjut lagi. Kata-kata itu lalu kita ucapkan melalui mulut kita. Dari sini, terlihat bahwa terdapat tiga tahapan. Jumlah yang sama juga berlaku saat kita mendengarkan. Pertama kita mendengarkan kata-kata, kemudian kita terjemahkan kata-kata itu ke makna yang dimaksud, dan yang terakhir kita memahami ide/gagasan/informasi (yang berbentuk abstrak) yang disampaikan oleh orang yang bercakap-cakap dengan kita.
Hal yang berbeda terjadi saat kita menulis atau membaca. Karena ada media tulisan, maka kita punya proses tambahan yaitu menerjemahkan kode tulisan ke kata-kata yang sesuai. Sehingga terdapat empat tahap. Namun, jika tulisannya sama seperti Bahasa Inggris, maka tahapan ini akan sama saja dan tidak terlalu berpengaruh selama kita belajar.
Okey, sekarang coba bayangkan kebanyakan dari kita saat kita belajar bahasa asing. Misalnya kita ingin menanyakan kabar seseorang. Maka pertama kita akan punya ide dulu tentang apa itu kabar, lalu kita terjemahkan ke bahasa ibu kita, lalu kita terjemahkan lagi ke bahasa asing, baru kemudian kita mengatakannya. Dari sini terlihat bahwa tahap yang harus kita lakukan bertambah menjadi empat tahap.
Konsep inilah yang menurut saya membuat saya kurang menyukai belajar Bahasa Inggris sewaktu saya sekolah dulu. Proses belajar yang seperti ini kurang efektif. Yang jelas kita harus lebih banyak melakukan sesuatu dalam otak - yang pada akhirnya membuat proses berpikir kita menjadi lebih lama. Selain itu, kita tidak bisa meninggalkan bahasa ibu kita. Dari sini, kita akan kesulitan untuk menjadi orang yang benar-benar berbahasa Inggris, karena kita tidak seperti mereka yang menjadikan Bahasa Inggris sebagai bahasa ibu mereka.
Karena itu, saya sadar bahwa daripada membuat dua rangkaian penerjemah dalam otak, yang harus dilakukan adalah mengganti penerjemah (atau switch). Jadi, yang tadinya tahap pertengahan itu adalah “translasi ide ke kata-kata Indonesia” kita ubah menjadi “translasi ide ke kata-kata Inggris”. Saya lebih suka menyebutnya mesin Bahasa Indonesia dan mesin Bahasa Inggris. Jadi saat kita berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia, kita gunakan mesin yang pertama. Lalu jika kita berkomunikasi dengan Bahasa Inggris, kita copot mesin pertama dan kita pasang mesin yang kedua.
Namun, bagaimana kita bisa mendapatkan mesin Bahasa Inggris tersebut? Jawabannya adalah jangan menerjemahkan Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia - atau sebaliknya - saat kita belajar/berlatih. Itulah sebabnya banyak guru atau orang-orang dari kalangan ahli bahasa menyarankan untuk menggunakan English dictionary daripada kamus Inggris-Indonesia Indonesia-Inggris. Saat kita memahami kata Bahasa Inggris dengan definisi Bahasa Inggris, maka otak akan berusaha memahami maknanya dan tidak mencoba menerjemahkannya ke bahasa lain.
Bisa juga seperti anak-anak: belajar dengan gambar. Misalnya ada tulisan “eat” pada gambar orang yang sedang makan. Atau “read” di gambar orang yang sedang membaca buku yang dipegang di kedua tangannya. Di sini otak akan menyerap makna dari kata-kata tersebut secara langsung. Kata ke konsep abstrak dan konsep abstrak ke kata.
Dengan sesedikit mungkin menggunakan bahasa ibu saat kita belajar Bahasa Inggris, maka kita akan semakin memperkuat mesin Bahasa Inggris yang kita miliki di otak kita. Kita juga akan dengan lebih mudah melepas mesin Indonesia-Inggris yang sebelumnya kita gunakan sebagai sarana mempermudah belajar. Tentu saja, dengan praktek, maka proses ini akan semakin mudah dan semakin mudah seiring berjalannya waktu.
Bahasa adalah Jalan Pikir
Ini juga adalah gagasan yang sangat menarik. Saat kita mengganti mesin bahasa yang kita gunakan, maka bukankah kita juga mengganti sebagian dari otak kita? Berarti, bukankah kita memiliki otak yang baru?
Ide ini secara tidak sadar saya pikirkan setelah saya menonton film Arrival. Dalam film tahun 2016 tersebut, karakter yang dimainkan oleh Amy Adams berusaha untuk berkomunikasi dengan alien yang secara mengejutkan mendarat di bumi. Tentu saja, ia harus mempelajari bahasa yang digunakan oleh sang alien. Semakin lama film berjalan, terlihat bahwa ia seakan-akan terhanyut dan masuk ke dalam pikiran-pikiran aneh yang sepertinya dimiliki oleh alien.
Di samping unsur cerita science fiction dan tema thriller yang dianut, film tersebut menampilkan pendapatnya ke penonton bahwa bahasa bisa membawa pola pikiran dari para penggunanya. Saya kemudian menjadi sadar dan mencoba merasakan, apakah benar hal itu? Apakah hal itu memang terjadi di keseharian saya? Jawabannya kurang lebih ya.
Pernahkan kalian mempunyai teman yang kebarat-baratan? Saya punya yang seperti itu. Kebanyakan, mereka adalah orang yang pandai berbahasa Inggris. Apakah hal ini kebetulan? Saya pikir tidak.
Kembali lagi ke pengalaman belajar Bahasa Inggris. Dari ide ini, saya mulai merasa bahwa saya semakin menyukai Bahasa Inggris karena saya semakin menyukai kebudayaan Inggris. Saya menjadi suka dengan ide minum teh, lalu membenarkan postur tubuh, dan berbicara dengan gaya posh ala orang Inggris. Pokoknya, seakan-akan saya ingin menjadi orang Inggris.
Nah di sini, saya merasa bahwa saat saya lebih mengenal budaya Inggris, saya lebih mengenal pola pikir orang Inggris, dan pada akhirnya saya lebih mudah memahami Bahasa Inggris. Jadi hal ketiga yang membuat saya lebih mudah belajar Bahasa Inggris adalah dengan tidak hanya belajar bahasanya, tapi juga pola pikirnya. Terdengar menambah beban? Mungkin iya, mungkin juga tidak.
Pola pikir di sini saya rasakan misalnya dari cara mereka bicara. Secara tata bahasa (grammar), Bahasa Inggris punya beberapa perbedaan dari Bahasa Indonesia. Contoh paling mudah adalah kata sifat di kata benda. Jika di Indonesia kita menyebut “gitar tua” maka di Inggris kita sebut “old guitar”. Maka pola pikir yang terlihat adalah bahwa orang berbahasa Inggris memikirkan sifat lebih dahulu dari pada benda.
Namun, tentunya bahkan orang berbahasa Inggris sekalipun jelas berbeda-beda. Orang Inggris dan orang Amerika punya perbedaan mendasar. Misalnya di Amerika, orang-orang suka menyingkat grammar seperti gonna, gotta, sorta, dan kinda. Sedangkan di Inggris, orang-orang suka menyingkat kata seperti brekky dan lain-lain. Perlu diketahui, ini hanya interpretasi saya saja :).
Jadi, menurut saya akan lebih mudah untuk belajar Bahasa Inggris jika kita juga memahami pola pikir para pengguna bahasa tersebut. Pola pikir berkaitan erat dengan budaya dan kebiasaan. Untuk memulai, akan lebih mudah lagi jika kita fokus pada satu budaya terlebih dahulu. Misalnya kita mulai dari budaya Amerika karena banyak media-media yang berasal dari sana seperti film, series, dan musik. Kemudian kita bisa beralih ke budaya lain misalnya budaya Inggris yang ningrat. Media yang bagus misalnya novel karena banyak penulis terkenal berasal dari Inggris.
Penutup
Itulah tiga hal yang menurut saya membuat saya menjadi mudah dan suka belajar Bahasa Inggris. Ketiganya berasal dari pengalaman saya dan pemikiran saya pribadi. Bagaimana menurut kalian, apakah kalian sependapat? Atau kalian merasa tidak logis? Atau mungkin juga kalian merasa konsep-konsep tadi agak aneh? Beri komentar sehingga saya bisa tahu apa yang kalian pikirkan.
Sampai jumpa lagi di tulisan-tulisan saya yang lain!