Buku Terbuka
( Image by Pixabay, Pexels )

Bagaimana Saya Suka Membaca

5 Jun 2024, (terakhir diedit pada 5 Jun 2024)
544
0

Membaca mungkin salah satu kegiatan yang paling terkesan 'terpelajar'. Banyak orang juga berharap kegiatan ini menjadi kebiasaan baik yang mereka dan keluarga mereka lakukan. Apakah saya suka membaca? Ya, saya bisa katakan saya suka membaca. Apakah saya sering dan biasa membaca? Nah, kalau itu saya sendiri ragu. Saya memang suka membaca, tapi saya juga adalah salah satu orang paling malas di dunia. Jadi, saya hanya membaca kalau saya memang sedang ingin. Terlepas daripada itu, saya lumayan banyak membaca, dan saya cukup percaya diri kalau saya ini lebih banyak membaca (in lifespan) dibandingkan rata-rata rakyat negeri ini.

Terpikir oleh saya bahwa kesukaan saya membaca ini tidak serta-merta karena sifat yang ada begitu saja. Ada semacam campuran sifat-sifat lain juga yang mendorong saya menikmati aktivitas membaca. Ada juga pengaruh hal-hal di luar saya. Maka dari itu, kali ini saya ingin membahasnya. Mulai dari awal saya bisa membaca hingga bagaimana persepsi saya tentang membaca.

Untuk itu kita langsung saja ke sana!

Saya Masuk SD Belum Bisa Baca

Saya tidak terlalu ingat awal saya bisa membaca. Namun yang jelas, saya yakin saat saya keluar TK dan masuk SD, saya belum bisa membaca. Pada waktu itu, kalau tidak salah saya hanya hafal alfabet saja. Jadi, kalau 'ani' saya tahu itu huruf 'a', 'n', dan 'i' tapi saya tidak tahu bacanya apa. Sebenarnya, orang tua saya ingin saya berada di TK lebih lama. Saat itu umur saya 6 tahun, umur yang menurut mereka belum cocok untuk masuk SD. Namun, guru TK saya waktu itu mengatakan (ini versi orang tua saya) kalau saya sudah cukup pandai untuk masuk SD. Sebenarnya saat itu, umur 6 tahun itu wajar-wajar saja untuk masuk SD, tidak seperti sekarang yang lebih wajar kalau umurnya 7 tahun. Teman-teman saya saja juga paling banyak kelahiran '96. Justru mereka yang '95 itu minoritas.

Kemudian, saya masuk SD. Lama-kelamaan saya menjalani kegiatan belajar-mengajar, saya mulai bisa membaca. Akhirnya, menuju kenaikan kelas 2, saya baru bisa membaca dengan baik. Sekali lagi, itu seingat saya.

Kalau melihat dari sini, sebenarnya saya kalah start dibanding anak-anak lain. Apalagi kalau dibandingkan anak-anak zaman sekarang yang sudah 'harus dituntut' untuk fasih membaca sebelum keluar TK.

Tabloid Otomotif

Okey, menurut saya inilah awal saya suka membaca. Sejak kecil, saya dan mungkin hampir semua bocah laki-kali lain suka yang namanya dunia otomotif. Motor, mobil, dan kendaraan-kendaraan lain itu saya suka. Almarhum ayah saya waktu itu melihat hal tersebut dan ia punya respon yang menarik. Sejak SD, mungkin sekitar kelas 4, saya sering dibelikan majalah otomotif. Waktu itu mereknya 'OTO Plus'. Saat itu saya senang sekali dan membaca banyak sekali artikel-artikelnya. Karena itu, ayah saya tetap membelikan saya majalah tersebut kalau tidak salah sampai saya SMP. Majalah ini sebenarnya terbit mingguan, tapi saya dibelikan setiap 2 minggu sekali. Mungkin anak kecil terlalu berlebihan juga kalau dibelikan majalah sering-sering. Majalahnya otomotif lagi, agak nyeleneh juga.

Foto Sampul OTO Plus Foto Majalah OTO Plus yang berhasil saya dapat di internet, sedikit berbeda dibanding zaman dulu (sumber: Gramedia)

Waktu itu, majalah tersebut lebih banyak memuat artikel tentang modifikasi motor di Indonesia. Lalu ada satu halaman yang berisi motor modif atau motor custom dari luar negeri. Kemudian ada dua atau tiga halaman di tengah-tengah yang membahas mobil, biasanya tentang mobil bekas. Kadang-kadang ada halaman yang membahas mengenai modifikasi untuk motor balapan. Kala itu namanya road race. Jadi motor-motor seperti Suzuki Smash, Yamaha Jupiter, atau Honda Supra X yang ditrondoli dan diubah mesinnya habis-habisan untuk berlari sekencang-kencangnya. Di halaman-halaman selanjutnya saya sedikit lupa. Kalau tidak salah isinya mengenai tips and trick seputar motor. Bisa berupa teknik mudah perawatan motor, kadang juga saran-saran modifikasi yang sedang tren. Di halaman terakhir, halaman yang saya jarang minati, biasanya berisi cerita-cerita seputar orang-orang yang berkecimpung di dunia motor. Bisa anggota tim balap, bisa juga berita-berita MotoGP. Yah, kira-kira seperti itulah kenangan saya mengenai majalah ini.

Karena majalah OTO Plus ini, saya jadi tahu banyak hal mengenai otomotif. Sekedar tahu saja, berbagai teori dan cara kerja mesin. Jadi kalau disuruh bongkar-pasang apalagi memperbaiki, saya angkat tangan. Yang saya tahu berkisar mengenai mesin motor dan mobil. Sejak SD, saya sudah hafal banyak merek-merek motor yang dijual di pasar Indonesia. Saya juga sedikit-sedikit tahu tentang 'moge' dan motor CBU atau motor import. Yang tren saat itu adalah motor CBU asal Thailand seperti Honda Sonic dan CBR 150 R. Okey mengenai teori mesin, saya sejak SMP (atau SD ya saya lupa) sudah hafal dengan siklus otomotif. Ada dua jenis, 4-tak dan 2-tak. Mesin 4-tak disebut demikian karena ada 4 tahap dalam setiap siklus mesin.

  • Hisap, yaitu piston menjauhi kepala silinder dan menghisap campuran udara dan bensin hingga masuk ke ruang bakar. Agar proses ini bisa terjadi, katup intake (kalau tidak salah memang istilah di majalah pakai bahasa Inggris) dibuka dan katup exhaust ditutup.
  • Kompresi, yaitu piston mendekati kepala silinder untuk memampatkan udara dan bahan bakar. Kedua katup tertutup pada proses ini.
  • Pembakaran, proses yang memberi tenaga pada mesin. Campuran udara dan bahan bakar dipantik dengan busi hingga meledak, menyebabkan piston terdorong menjauhi kepala silinder.
  • Pembuangan, yaitu piston kembali mendekat ke kepala silinder, mendorong sisa pembakaran keluar dari ruang bakar. Pada tahap ini, katup masuk tertutup dan katup keluar terbuka.

Kalau mesin 2-tak, tahapnya hanya ada dua, proses hisap yang langsung dibakar dan langkah buang. Itu pemahaman saya dulu, dan ternyata itu kurang tepat. Belakangan saya menemukan bahwa mesin 2-tak itu juga melakukan semua tahap di mesin 4-tak (jadi tetap ada proses kompresi) hanya saja mesin tersebut dibuat sedemikan rupa sehingga proses itu bisa dilakukan secara bersamaan di tempat yang terpisah. Yang jelas, saat kecil dulu saya tahu bahwa mesin 2-tak itu tidak pakai katup seperti mesin 4-tak. Karena itu, terkadang kalau ada motor 2-tak modif performa mesin (ya biasalah kalau modif itu tentang penampilan atau kekencangan mesin), sering dipasang tabung induksi di intake. Tabung ini berfungsi untuk menangkap bahan bakar yang terdorong kembali ke intake saat langkah buang.

Selain masalah cara kerja mesin, saya juga tahu teknologi-teknologi canggih seputar mesin yang tidak umum. Misalnya turbo charger dan super charger, lalu teknologi mesin hybrid yang menggabungkan mesin bakar dan mesin listrik, juga teknologi yang ada di MotoGP atau Formula 1. Yang saya ingat itu Desmosediki (ralat setelah googling yang benar tulisannya Desmosedici) milik Ducati di MotoGP pakai katup Demodromik (ralat setelah googling yang benar tulisannya Desmodromic), jadi tidak pakai per katup. Kalau di Formulai 1, kalau tidak salah semua mesin pakai katup pneumatic. Artinya, mesin menggunakan gas untuk menutup katup. Saya sendiri tidak paham detailnya kalau itu.

Ini apa sih malah banyak ngomongin mesin, hehehe. Maaf, maaf. Let's back to the topic.

Dari sini, saya merasa kalau sejak kecil saya itu punya keingintahuan yang besar berkaitan masalah teknologi dan keteknikan. Hal-hal yang berbau mekanisme dan sejenisnya pokoknya. Jadi tidak heran kalau saya suka Dota 2, game yang penuh dengan mechanic. Hehehe, bercanda. Maksud saya, saya itu memang suka sekali ingin tahu, dan perasaan ini mendorong saya untuk banyak membaca. Syukur alhamdulillah, saya mendapat sarana untuk hal ini. Sebuah majalah otomotif yang menemani hari-hari saya sebagai anak rumahan. Terima kasih Bapak.

Hal ini juga memperlihatkan bahwa membaca itu seharusnya dimulai dari apa yang kita sukai. Kalau kita sejak awal disuruh membaca buku pelajaran yang mungkin kebanyakan dari kita tidak suka, ya kita jadi ogah-ogahan untuk membaca. Mindset 'suka membaca' itu berarti 'suka semua buku' menurut saya kurang tepat. Misalnya, orang suka musik bukan berarti ia suka mendengarkan semua jenis musik donk. Kita pasti punya selera atau preferensi masing-masing. Begitu juga masalah membaca. Nah, untuk mulai membiasakan membaca, ada baiknya kita terlebih dahulu tahu apa yang kita sukai. Apakah itu teknologi, olahraga, atau seni. Jadi bisa disesuaikan. Sekali lagi, itu menurut saya.

Buku dari Hasil yang 'Kurang Benar'

Beranjak dari majalah, kita akan membahas mengenai buku. Jadi ada cerita menarik lain yang membuat saya suka membaca. Almarhumah ibu saya dulu bekerja sebagai guru SD. Kalau tidak salah saat saya SMP, ada bantuan pemerintah di SD-nya. Salah satu bantuan tersebut adalah buku-buku berbagai jenis untuk perpustakaan sekolah. Nah, sudah mulai mencurigakan? Hehehe. Jadi, beberapa buku-buku tersebut dibawa pulang oleh ibu saya sebagai bahan bacaan orang-orang rumah. Semoga tidak apa-apa ya.

Tidak ada jenis buku khusus yang dibawa ibu saya. Biasanya buku-buku yang terlihat bagus. Kadang juga buku-buku IPA atau Fisika karena pada waktu itu saya sering lomba olimpiade. Jadi ibu saya hanya menyesuaikan saja. Saat itu, sebenarnya saya justru tidak tertarik dengan buku-buku itu. Buku-bukunya kurang menarik, dan menurut saya sekarang, buku-buku tersebut lebih bersifat 'mengarahkan'. Lebih tepatnya, mengarahkan pembacanya agar bisa jadi peserta lomba-lomba. Saya waktu itu sebenarnya lebih tertarik pada sesuatu yang unik dan tidak biasa.

Saya ingat dulu ibu saya membawa buku-buku tentang komputer. Satu set lebih tepatnya. Dalam set tersebut (kalau tidak salah) ada yang tentang Ms. Office (jadi Word, Excel, dan PowerPoint), ada juga yang tentang internet. Itulah pertama kali saya mengenal e-mail dan bagaimana cara mendaftar ke penyedia gratis yang ada. Waktu itu yang terkenal masih 'Yahoo!'. Nanti dulu, begini-begini, harus saya jelaskan bahwa saya tinggal di desa. Internet di sini itu susah, sejak dulu hingga sekarang, relatif kalo dibandingkan perkotaan. Untungnya sih, keluarga saya termasuk yang perhatian pada perkembangan teknologi. Saat saya SD, di rumah sudah ada komputer. Jadi, minimal saya kenal komputer sejak kecil, sekalipun lebih sering saya pakai untuk ngegame Road Race atau Need For Speed II. Keberadaan buku-buku tentang komputer kelihatannya bisa membuat saya lebih pintar tentang komputer, tapi sebenarnya tidak terlalu. Hal ini karena beberapa isi dari buku sebenarnya juga adalah pelajaran di sekolah. Waktu SMP kita ada 'kan pelajaran TIK? Memanggil kaum yang lahir '90-an, hehehe. Selain itu, isinya juga kurang informatif sebab beberapa sudah saya pelajari sendiri. Akhirnya masalah e-mail itu yang menarik, yang akhirnya saya praktekkan saat saya pergi ke warnet. Saya juga bisa sombong ke teman-teman saat SMP sudah ada koneksi internet. Saya jadi mengajari mereka bagaimana membuat e-mail. Apa mereka sebenarnya sudah tahu ya waktu itu? Mereka hanya tertawa dalam hati melihat kesombongan saya yang sebenarnya biasa-biasa saja? Yah, mungkin saja.

Bagaimanapun, dari buku-buku yang ibu saya bawa pulang, ada yang paling saya suka. Buku tersebut yakni satu set buku SETS. Iya betul, judul bukunya 'SETS'. SETS adalah singkatan dari Science, Environment, Technology, and Society. Buku ini keren banget, dan sangat cocok untuk anak-anak. Apa yang saya sukai dari buku ini? Apa kelebihan buku ini? Yang paling menonjol adalah gambar-gambarnya. Setiap halaman itu pasti memuat gambar, dan gambarnya itu (menurut saya) bagus dan indah. Jadi, selalu menarik untuk membuka halaman-halamannya. Di samping itu, setiap halaman juga memuat tulisan yang tidak terlalu panjang, tapi lumayan informatif. Saya sebagai anak kecil akan membuka buku ini, melihat gambarnya, merasa penasaran dengan gambar tersebut, lalu terdorong untuk membaca tulisannya. Hal menarik lain adalah, setiap halaman juga menampilkan satu kotak yang berisi semacam 'tulisan tambahan'. Di kotak itu ada gambar lagi tapi lebih kecil, dan satu paragraf yang menarik berkaitan dengan tulisan utama. Yang terakhir, tulisan dalam setiap halaman itu memang saling terkait, tapi bisa berdiri sendiri. Jadinya, saya tidak harus membacanya urut dari awal. Saya bisa terlebih dahulu buka-buka bukunya, lalu saat menemukan sesuatu yang membuat saya ingin tahu, baru saya baca. Buku ini enak sekali dibaca, mantap sekali deh pokoknya!

Foto Buku SETS Foto Buku SETS (sumber: Tokopedia, maaf di rumah banyak hilang)

SETS seperti yang sudah saya sebutkan, adalah satu set yang terdiri dari 5 buku. Semuanya saya suka tanpa terkecuali. Tidak lain dan tidak bukan karena semuanya berisi gambar-gambar yang bagus. Hanya saja, saya rasa ilmu yang bisa masuk ke otak saya lebih yang bersifat IPA saja. Jadi yang "Bumi dan Ruang Angkasa" atau "Sains dan Teknologi". Beberapa yang sangat mengena bagi saya adalah ilmu atom dan senyawa. Waktu itu saya sudah sedikit paham mengenai apa itu atom dan ikatan-ikatan kimia. Yang masih saya ingat sekarang adalah ikatan ionik dan ikatan kovalen. Ikatan ionic terjadi saat ada atom yang memberi elektron ke atom lain. Yang 'memberi' akan bermuatan positif sedangkan yang 'diberi' akan bermuatan negatif. Perbedaan muatan ini membuat mereka saling tarik-menarik dan menghasilkan senyawa ionik. Contohnya adalah garam dapur dengan Na+ dan Cl-. Kalau ikatan kovalen beda lagi. Ikatan ini yang sepemahaman saya (dulu dan sekarang) menghasilkan molekul. Konsepnya yakni berbagi elektron. Jadi misal ada dua atom yang masing-masing butuh 2 elektron tambahan untuk mencapai jumlah ideal, maka mereka akan saling berbagi 2 elektron yang bergerak dan berpindah bergantian di kedua atom tersebut. Contohnya oksigen atau O2. Bisa juga 2 atom yang perlu 3 elektron tambahan, misal nitrogen atau N2.

Pengetahuan ini ternyata berguna di kemudian hari. Saat saya SMA, saya mulai punya keharusan untuk belajar kimia. Saat kelas 1, pelajarannya kira-kira ya sama dengan apa yang saya jelaskan barusan. Ada teori atom, ada juga tentang ikatan. Jadi saya sudah punya bekal yang mempermudah saya waktu itu. Yang baru bagi saya waktu itu adalah ikatan logam dan ikatan atau gaya antar molekul. Itupun masih terbantu dengan memahami konsep-konsep atom dan ikatan yang sudah saya ketahui sebelumnya.

Sayangnya, saya tidak terlalu mendapat manfaat yang signifikan dari membaca buku-buku yang lain. SETS juga berisi buku "Sejarah dan Peradaban Dunia", tapi saya tidak terbantu di mata pelajaran Sejarah. Bagaimanapun, saya tetap merasa ilmu kimia yang sudah sedikit saya ketahui sejak SMP sangat membantu saya saat SMA. Terima kasih buku SETS!

Yang jelas, saya merasa suka dengan buku dan cocok dengan isinya saja belum cukup untuk membuat kita banyak membacanya. Bagus tidaknya buku tersebut juga menentukan.

Novel Detektif

Selain masalah kualitas, saya juga yakin kesesuaian jenis buku dan umur pembaca juga berpengaruh terhadap dorongan membaca. Hal ini saya rasakan terkait novel detektif. Mungkin, jenis buku ini adalah yang paling populer di kalangan pembaca buku. Saya sendiri juga paling suka dengan buku-buku detektif, apalagi yang plot twist yang mind-blowing. Namun itu sekarang. Dulu saya tidak seperti ini.

Poster Conan The Movie 6 Poster Detective Conan The Movie 6, saya ambil gambar ini karena ada Sherlock Holmes-nya (sumber: Conan Wiki)

Pertama kali saya bersinggungan dengan novel adalah sewaktu saya SD. Saat itu, kakak saya yang sudah SMA suka sekali dengan anime Detective Conan yang ditayangkan di TV setiap akhir pekan. Saya yang masih anak-anak suka apa pun yang berbau kartun, jadi saya juga menyukai serial tersebut. Jika kalian tahu Conan, kalian pasti tahu kalau tokoh utamanya merupakan fans berat novel Sherlock Holmes. Nama 'Conan' sendiri adalah nama samaran tokoh utama yang ia dapat dari pengarang seri novel itu, Sir Arthur Conan Doyle. Makanya, kami berdua yang suka sekali dengan anime ini juga merasa terpengaruh. Hingga suatu hari, kakak saya pulang membawa novel Sherlock Holmes 'betulan' yang ia pinjam dari perpusatakaan sekolah. Waktu itu kalau tidak salah yang berjudul The Hound of the Baskervilles.

Saya yang saat itu sudah lumayan bisa membaca dan sangat terinspirasi dengan karakter Conan Edogawa jelas sangat ingin ikut membaca buku tersebut. Biar bisa kaya Conan, 'kan keren, hehehe. Namun, saya tidak kuat membaca buku itu sampai selesai. Menyelesaikan satu bab saja tidak (kalau tidak salah ingat). Saat itu saya merasa sangat kesulitan membaca jenis buku seperti itu. Bukunya kecil, tidak ada gambar, hanya tulisan berderet-deret dalam baris-baris tiap halaman. Bahasanya pun kurang bisa saya mengerti. Akhirnya yang bisa baca ya kakak saya.

Saya bertemu lagi dengan cerita detektif kalau tidak salah waktu SMP. Saat itu saya dan kakak saya masih tertarik dengan Sherlock Holmes. Namun, dibanding novel yang beratus-ratus halaman, kakak saya lebih suka baca buku-buku kecil berisi cerita pendek. Mungkin perlu diinformasikan di sini, seri Sherlock Holmes tidak hanya berwujud novel, tapi juga ada yang kumpulan cerita pendek. Nah, dari yang kumpulan ini biasanya ada percetakan yang mengambil satu atau tiga cerpen dan dimasukkan ke buku-buku tipis. Kakak saya dulu suka beli yang seperti ini. Walau pendek, cerpen-cerpen Sherlock Holmes menurut saya bagus. Waktu itu, saya mampu kalau membaca buku yang seperti ini. Satu cerita mungkin sekitar lima puluh halaman, jadi lumayan ringan. Setiap jumlah halaman itu, saya sudah mendapat kepuasan dengan penyelesaian kasusnya. Dari sana, sedikit demi sedikit saya mulai banyak membaca buku cerita, termasuk akhirnya saya membaca novel utuh.

Saya lupa kapan pertama kali selesai baca novel atau novel apa yang pertama kali saya selesaikan. Saya akan bercerita dari yang paling saya ingat saja. Mari memulainya dengan The Da Vinci Code. Novel ini saya baca melalui softfile kala saya SMP, saat sedang banyak-banyaknya media digital. File ini saya dapat dari bulek saya. Kebetulan istri paklek saya ini suka membaca novel, dan dia punya banyak koleksi di komputernya. Waktu itu saya copy novel ini, lalu Laskar Pelangi, dan Harry Potter (yang keduanya belum saya baca sampai sekarang). Begitulah seingat saya. Saya copy ya iseng saja, jadi tidak benar-benar yakin akan baca. Kemudian, saya bukalah file The Da Vinci Code. File itu lumayan bagus, dengan tampilan yang berwarna sekalipun tidak ada gambarnya. Tampilan ini membuat saya jadi penasaran. Saya bacalah bagian pengantar, dan kaget menemukan bahwa buku ini lumayan kontroversial. Di bagian ini, terdapat beberapa penjelasan dan sangkalan dari pihak-pihak gereja. Wah, menarik juga ya, batin saya. Saya lalu keterusan baca. Dan bisa saya katakan, isinya memang menarik. Apakah saya suka atau tidak? Kalau mengabaikan unsur-unsur kontroversi agamanya, saya suka novel ini. Ceritanya menarik dengan banyak detail yang menghiasi. Lalu, alurnya juga mendebarkan dan tidak tertebak sampai akhir.

Bicara soal novel digital, saya jadi ingat waktu itu adalah zamannya bajak-membajak. Bagi yang suka film, tidaklah asing situs macam Indowebster dan Ganool. Indowebster sendiri tidak hanya berisi film, tapi banyak file-file lain. Kalau pdf atau dokumen, yang kita kenal tentunya 4shared. Punya beberapa novel digital membuat saya terpancing untuk cari-cari di internet. Saat itu masih perlu ke warnet. Saya buka 4shared dan menemukan banyak sekali buku. Saat ini, saya masih punya buku-buku hasil cari-cari tersebut. Mulai dari Agatha Christie, cerpen Sherlock Holmes, dan beberapa novel dari Dan Brown si pengarang The Da Vinci Code.

Oh iya, kalau kembali soal novel detektif, yang saya ingat adalah Sherlock Holmes yang saya beli sendiri. Judulnya The Sign of Four yang kalau tidak salah saya beli di Gramedia Solo. Dikategorikan sebagai anak-anak di keluarga besar, saya banyak mendapat uang saat Idul Fitri, jadi saya bisa menggunakannya untuk beli novel.

Gramedia sendiri merupakan tempat yang wah bagi penduduk desa. Kakak saya bercerita dengan antusias sewaktu ia memberitahu saya dan ibu saya. Setidaknya itu yang saya ingat. Maka, saya kadang-kadang pergi ke Solo untuk mengunjungi toko buku tersebut, biasanya diantar kakak saya. Dan tempat itu memang wah menurut saya. Saat saya SMA, saya jadi lebih sering ke sana dan toko-toko buku lain seperti Togamas karena saya tinggal di Solo dan diberi motor. Jadilah saya menggunakan uang jajan dan uang THR untuk beli novel-novel lain. Selain tentu untuk nonton film di bioskop. Memang masa SMA masa belum mikir susah, hehehe.

The Sign of Four sendiri memberi saya gambarang lebih luas tentang kisah-kisah Sherlock Holmes khususnya dan novel detektif umumnya. Ternyata saya bisa membaca novel detektif full dan menikmatinya. Saat itu saya merasa novel ini ya bagus-bagus saja. Karena saya belum banyak membaca novel misteri kriminal detektif, saya hanya bisa berpikir 'Oh ternyata seperti ini ya novel detektif itu'.

Perjalanan saya mengenal novel kembali terpengaruh oleh anggota keluarga. Saya punya pakdhe yang tinggal di Mojopuro, daerah yang masih di kawasan Wonogiri. Rumahnya itu sekitar setengah jam perjalanan dari rumah saya. Karena pakdhe adalah anak pertama yang dituakan serta bapak saya suka bepergian, maka saya sering berkunjung ke rumahnya. Nah, sepupu dari pakdhe saya ini ternyata suka membaca, termasuk novel juga. Bahkan, sepupu saya ini menulis novel sendiri yang sudah terbit. Anyway, karena tahu bahwa saya suka membaca (mungkin saya yang bilang atau bapak saya, saya tidak ingat) maka sepupu saya meminjamkan beberapa novelnya. Paling pertama saya dipinjami novel Sherlock Holmes A Study in Scarlet dan buku karangan Agatha Christie The Labours of Hercules.

Saya tentu semangat membaca A Study in Scarlet, karena saya tidak asing dengan Mr. Holmes. Selain itu, novel ini waktu itu juga kelihatannya baru dan kondisinya bagus. Maaf ya kalau saya ini orang yang lebih banyak melihat penampilan, hehehe. Saya ini tergolong tipe visual, kalau saya pikir-pikir belakangan ini. Kalau novelnya sendiri saya tidak terlalu ingat. Yang jelas, novel ini adalah novel pertama serial Sherlock Holmes, mengisahkan awal mula Dr. Watson bertemu dengan sang detektif. Baru kalau tidak salah novel keduanya adalah The Sign of Four.

Kemudian, The Labours of Hercules. Seingat saya saat itu, sampul buku ini sudah tidak terlalu jelas gambarnya. Salain itu kalaupun jelas, gambarnya itu sedikit seram. Ada burung pemakan bangkai besar di atas kepala wanita tersenyum dengan latar warnanya merah atau oranye (atau mungkin warna lain, ya maaf saya buta warna) berpadu hitam. Yah meski awalnya merasa aneh, tapi ilustrasi di sampul tersebut malah membuat saya penasaran. Waktu membaca sebagian, saya sadar bahwa buku ini bukan novel, melainkan kumpulan cerita pendek. Tugas-tugas Hercules, seperti dalam mitologi atau film Disney (yang mungkin agak sedikit misleading), adalah kumpulan tugas aneh yang bersinggungan dengan makhluk-makhluk legenda Yunani. Nah, dalam bukunya Agatha Christie ini, sang detektif bernama Hercule Poirot (namanya saja sudah mirip) berusaha memecahkan berbagai kasus yang kebetulan dapat disimbolkan dengan tiap tugas sang Hercules.

Sampul Tugas-Tugas Hercules Sampul Tugas-Tugas Hercules zaman dulu yang menurut saya seram (sumber: Perpus UNJ)

Itulah pertama kali saya baca Agatha Christie dan jujur saya sangat berkesan. Ceritanya itu lebih mind blowing dibandingkan Sherlock Holmes. Karena itu, lain waktu saya ke toko buku, saya membeli novel Agatha Christie. Yang pertama adalah Death on The Nile. Sebenarnya ada beberapa judul lain yang dipajang waktu itu, seperti biasa kalau di Gramedia. Lalu mengapa saya beli yang ini? Karena ketebalan. Novel ini adalah yang paling tebal waktu itu, dan saya berpikir ingin menghabiskan lebih banyak waktu untuk membaca. Saya 'kan tidak tahu kapan saya dapat uang lagi atau kapan saya bisa pergi ke Solo lagi. Dan ternyata, saya jatuh cinta pada cerita novel ini. Harus saya akui paruh pertama lumayan membosankan. Kapan pembunuhannya? Ini kapan ada yang mati? Namun begitu pembunuhan terjadi (seperti di sinopsis sampul belakanga) cerita jadi menarik. Analisis sang detektif, intrik tokoh-tokohnya, rentetan kejadian yang menyertai, dan ending yang sekali lagi mind blowing, membuatnya benar-benar jadi buku bacaan yang menyenangkan. Berbeda dengan serial Sherlock Holmes dengan cerita unik yang lebih mirip petualangan, Agatha Christie lebih menonjolkan ke-mind blowing-an. Juga biasanya pelaku kejahatannya itu memang tokoh sekitar cerita, jadi konsepnya pembaca harus menebak-nebak siapa sebenarnya yang bersalah. Lebih mirip Detective Conan sih, sehingga lebih asyik aja. Sejak itulah saya jadi fans sang Agatha Christie. Banyak yang saya beli sampai sekarang. Beberapa di antaranya They Do It with Mirrors, Dumb Witness, And Then There Were None, dan Parker Pyne Investigates. Sampai sekarang saya masih sering baca novel-novel dari penulis legendaris ini. Bisa dari iPusnas, karena di sana memang ada banyak. Kadang-kadang saya juga beli yang hard copy, kalau misal ke toko buku (dan kalau punya uang), atau kebetulan ke pasar buku bekas. Sayang banyak dari buku-buku saya ini hilang. Semoga saya bisa menyimpan buku-buku saya sekarang dengan lebih baik.

Poster Film Death On The Nile Sebagus itu Death on The Nile, sampai sekarang Hollywood pun masih buat filmnya lho (sumber: 20th Century Studios)

Oh iya, saat saya mengembalikan kedua buku tersebut ke sepupu saya, saya minta dipinjami lagi. Kali kedua, saya dipinjami The Hobbit karya J.R.R. Tolkien dan The Adventures of Tom Sawyer karya Mark Twain. Sayangnya, karena buku-buku tersebut bukan buku misteri, kriminal, atau detektif, maka saya tidak kuat membacanya. Pernah saya coba baca yang Tom Sawyer, seingat saya saya berhenti sampai di halaman ke lima puluh. Waktu itu saya orang yang aneh, rumit, dan 'sok dewasa', sehingga saya berpikir cerita anak-anak (maksudnya cerita dengan tokoh anak-anak) semacam itu tidak saya sukai. Buku The Hobbit juga tidak terlihat menarik. Beberapa kali buka halamannya dan terlihat bait-bait becetak miring dan gambar-gambar fantasi. Akhirnya keduanya saya simpan di rak meja. Anehnya, kedua buku ini tidak hilang sampai belakangan ini.

Okey, selain buku-buku yang saya ceritakan di atas, saya juga pernah baca beberapa buku lain. Ini khusus buku cerita ya, novel atau kumpulan cerpen. Saya pernah dua kali membeli buku John Grisham. Waktu itu saya tertarik karena biasanya dipajang di dekat buku Agtha Christie. Keduanya adalah The Broker dan The Associate. Kesan saya, novel-novel tersebut lumayan juga. Memang bukan buku misteri detektif, tapi ada unsur kriminalnya yang tetap memiliki daya tarik. Lalu saya pernah beli buku Lost karya Michael Robotham. Kalau yang ini tidak terlalu saya suka. Cerita detektif tapi menurut saya tidak jelas alurnya. Saya juga pernah baca Arsène Lupin hasil tukeran buku dengan teman SMA. Buku ini lumayan saya suka. Memang sih cocok kalau jadi legenda. Kalau sekarang dipikir-pikir, seharusnya dulu waktu SMA saya lebih sering tukeran buku seperti ini. 'Kan lumayan bisa baca lebih banyak buku. Ya tapi mau bagaimana lagi, kalau urusannya dengan cewek memang saya tidak PD, hehehe. Saat SMA, memang yang banyak baca buku itu yang perempuan. Masalah lain yakni, kalau perempuan biasanya banyak baca buku romance bukan misteri detektif kriminal. Setidaknya itu anggapan saya waktu itu. Selain itu seperti yang sudah saya bilang di awal, saya itu orang paling malas di dunia. Saya takut kalau saya tidak sanggup menyelesaikan buku dalam waktu yang acceptable. Jadinya, saya tidak meneruskan tuker-tukeran ini. Tunggu-tunggu! Kalau diingat-ingat, teman SMA saya yang cowok juga ada sih yang suka baca, malah teman satu kosan. Saya pernah pinjam novel Deception Point karya Dan Brown yang ia tidak yakin ori atau tidak. Katanya itu buku kakaknya kalau tidak salah. Saya pinjam supaya bisa menyelesaikannya, karena saya sudah baca buku ini versi softfile. Selain itu seingat saya saya tidak pinjam lagi. Teman saya ini suka novel-novel yang tren waktu itu, misalnya The Hunger Games dan novel-novelnya Dee. Saya yang complicated waktu itu belum tertarik dengan buku-buku tersebut. Dia juga tidak terlalu tertarik dengan bacaan saya yang kebanyakan Agatha Christie.

Pada akhirnya, kalau dipikir-pikir, hidup manusia itu ada fase-fasenya. Karenanya, elemen-elemen hidup pun juga terpengaruh dengan di mana fase kita berada. Ya misalnya bagaimana kita bisa tertarik dengan suatu jenis buku untuk dibaca. Remaja mungkin masanya 'bersenang-senang', kita lakukan apa yang kita inginkan. Saya untuk urusan buku pun begitu, beli dan baca novel, apa pun yang saya ingin. Tidak ada latar belakang atau alasan khusus. Namun, saya tidak selamanya remaja. Waktu terus berjalan, hingga fase hidup pun berganti.

Masalah Hidup

Well, saat saya kuliah, saya jarang membaca. Sebagian besar waktu saya habiskan untuk bermain game. Dota 2, sejak pertama kali saya mencoba game ini tahun 2014, saya jadi ketagihan. Saya biasanya bermain dengan teman kontrakan saya dulu. Bisa pagi, siang, sore, malam, bahkan pernah juga dini hari. Ya, tapi tidak langsung seharian main terus ya, cuma beberapa jam saja. Hanya saja waktunya memang tidak tentu. Kami bermain biasanya dengan bot. Saya sebenarnya ingin juga main online, tapi saya tidak terlalu berani orangnya. Kalau main online, saya takut dicacati alias disalah-salahkan atau dijelek-jelekan. Selain itu, internet kontrakan waktu itu tidak terlalu stabil. Walau bagaimanapun, teman-teman saya masih banyak yang sering main dengan saya offline mode pakai LAN wifi.

Dota 2 Sumber: X atau Twitter Dota 2

Hingga kemudian saya lulus setelah lima tahun kuliah, banyak peristiwa terjadi. Bapak saya didiagnosis multiple-myeloma, pandemi COVID-19, dan beberapa masalah lain yang menyertai. Pada saat itu saya tidak tahu harus berbuat apa. Beberapa kali saya mengisi waktu dengan 'coba-coba', misalnya mengotak-atik laptop, membuat channel YouTube, atau belajar pemrograman web dan komputer. Saya sebenarnya juga patut disalahkan, karena tidak semangat mencari kerja. Namun pada saat itu saya benar-benar down. Apalagi tidak lama berselang ibu saya meninggal secara tiba-tiba. Mungkin itulah saat paling sedih dan membingungkan dalam hidup saya.

Setelah itu (jeng jeng jeng), saya mendapat pekerjaan. Kebetulan teman saya punya kakak yang sedang mendirikan start-up dan sedang membutuhkan karyawan. Mereka berbaik hati menerima saya. Saya lalu bekerja sebagai salah satu anggota tim business consultant di sana. Itu adalah satu-satunya pekerjaan resmi yang pernah saya lakukan sampai sekarang ini, hehehe.

Lalu, apa hubungannya pekerjaan tersebut dengan permasalahan hidup saya? Apa juga kaitannya dengan tulisan ini yang membahas tentang membaca? So, ada satu hal unik yang ada di perusahaan ini. Setiap karyawan harus mengikuti semacam mentoring. Mentoring di sini bertujuan untuk meningkatkan kualitas karyawan khususnya di bidang profesionalisme. Salah satu programnya adalah membaca buku. Jadi, ada sekian judul buku yang harus kami baca sebagai PR tambahan. Sekali lagi, ini sifatnya juga untuk kebaikan kami sendiri. Buku-buku yang sempat saya baca yaitu The McKinsey Way (oh salah, ini bukan untuk mentoring tapi memang tugasnya anggota tim consultant, itupun kalau tidak salah saya tidak sampai selesai), Problem Solving 101: A Simple Book for Smart People, dan sedikit baca bagian awal Mindset yang membahas tentang growth mindset.

Buku Problem Solving 101 Buku Problem Solving 101 yang dulu sempat saya foto

Nah, saat membaca kedua buku tersebut (kedua yang akhir) saya merasa mendapat inspirasi. Ternyata permasalahan itu bisa dipandang dengan cara yang berbeda yang belum pernah kepikiran di kepala saya. Ada juga berbagai strategi untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah. Jadi tidak hanya sekedar 'masalah ya harus dihadapi', atau 'yo urip ki dikuat-kuatke' saja. Misalnya dalam buku Problem Solving 101 ada contoh kasus seorang pelajar yang ingin meningkatkan nilai matematikanya. Kalau sebelumnya dalam pikiran saya, saya pikir: ya dia harus belajar lebih banyak donk, tapi buku ini memberikan konsep yang lebih logis dan realistis. Terlebih dahulu pelajar ini melihat hasil tes-tesnya. Lalu ia menandai materi apa saja yang nilai jelek atau kurang ia pahami. Dari sini, ia lalu mengalokasikan waktu lebih banyak untuk belajar materi-materi ini. Jadi yang sudah paham ya dipelajari ulang sekilas saja. Begitu juga, dengan terlebih dahulu 'mendata' materi mana yang kurang bisa, ia jadi tidak kelewatan atau kelupaan saat belajar. Sehingga ia bisa lebih efektif dan efisien.

Saat saya membaca buku-buku ini, saya jadi merasa lebih tenang. Di kala hidup ini terasa aneh, ada benda bernama buku yang bisa jadi salah satu cara kita merespon perasaan yang bergejolak. Terima kasih Logs & Walker, terutama Mas Rizal. Hingga kemudian saya keluar dari perusahaan ini, saya tetap terpengaruh dengan buku-buku yang pernah jadi tugas mentoring tersebut. Ditambah lagi di YouTube berseliweran video-video motivasi (mungkin YouTube paham kondisi saya) yang menekankan pentingnya pengembangan diri. Saya yang dulunya hanya suka membaca novel, jadi tertarik dengan buku-buku self-improvement.

Buku yang pertama kali saya beli adalah Atomic Habits karya James Clear. Saya tertarik karena buku ini sangat populer. Saya membelinya secara online saat ada diskonan. Masalahnya, saya tidak sampai hati kalau membeli bajakan. Kasihan yang buat. Saya tahu susahnya menulis, apalagi menulis buku, huhuhu. Anyway, saya lumayan suka buku ini. Isinya jelas dengan bahasa yang mudah dipahami. Ada banyak contoh riil yang memberi pembaca bayangan tentang setiap topik yang dibahas. Namun, yang paling istimewa adalah bagian akhirnya. Di sana terdapat pembahasan yang berkesan healing. Itu kalau menurut saya dan teman saya sih. Saya lalu lebih berminat pada buku-buku yang membahas tentang membangun karakter atau membangun kebahagiaan. Bisa dikatakan buku healing 'lah. Tentu saja dengan memperhatikan keuangan, hehehe.

Buku selanjutnya punya latar belakang yang cukup panjang. Jadi begini, seperti yang saya sebut sebelumnya, YouTube saya banyak berisi video-video motivasi. Namun, yang paling berkesan adalah video dengan thumbnail 'I WAS LOST, LAZY AND HAD NO PURPOSE' dari Goalcast. Video tersebut berisi kumpulan kuliah singkat dari lima motivator. Nah, yang paling berkesan adalah yang pertama, Jay Shetty. Saat mendengarkannya, saya merasa kata-katanya itu perlahan tapi pasti menyentuh hati saya. Terasa menyejukkan dan menenangkan. Ia berbicara sesuatu yang membukakan pikiran saya waktu itu, tapi juga logis. Perkataannya di akhir benar-benar menginspirasi saya, "Because the world needs you to be you. And I mean that". Saya merasa tidak pernah merasa demikian. Maksud saya, mungkin banyak orang yang pernah berkata seperti itu pada saya, tapi saya tidak merasa seperti saat saya menonton video tersebut. Saya merasa Jay Shetty paham dengan apa yang saya rasakan, dan ia menemukan cara untuk bisa memberi saya dan orang-orang seperti saya inspirasi dan motivasi yang kami butuhkan. Saya merasa ia sendiri pernah mengalaminya, jadi ada 'nada pemakluman' di ucapannya.

Mengapa itu penting? Misalnya saya bandingkan dengan cara motivator lain bicara. Mungkin kalau yang biasa kita dengar itu akan bicara seperti "Saya ini hebat, punya pencapaian besar. Makanya kalau kalian ingin seperti saya, maka kalian lakukan ini dan itu". Saya jadi teringat teman saya pernah bilang kalau para motivator itu seperti 'menggurui'. Yah, mungkin inilah maksudnya. Namun, dengan ucapan "...needs you to be you..." itu tidak terasa menggurui. Jay Shetty lebih terdengar empati. Karena itu, saya jadi tertarik dengan sang influencer dan mendengarkan beberapa podcast-nya. Saya lalu merasa cocok, dan semakin lama semakin tertarik. Akhirnya, saya tergoda untuk membeli bukunya yang berjudul Think Like A Monk.

Buku Think Like A Monk Buku Think Like A Monk milik saya

Buku ini sendiri mungkin merupakan buku paling mahal yang pernah saya beli sampai sekarang. Sebab, buku ini import, tidak ada versi bahasa Indonesia. Jadi, ya saya harus direpotkan dengan biaya dan kesulitan bahasa juga. Kalau bicara isinya, sebenarnya tidak terlalu istimewa. Loh, bagaimana sih? Katanya suka Jay Shetty? Udah beli mahal-mahal pula, rugi donk? Tidak seperti itu. Saya bilang tidak istimewa karena banyak dari isinya sebenarnnya juga pernah ia kemukakan di podcast. Isinya tetap bagus kok, juga bentuknya yang 'buku' membuatnya lebih terstruktur. Bagaimanapun, saya tidak kecewa atau merasa rugi telah membeli buku ini. Saya menjadikan buku ini sebagai pengaman. Mengapa demikian? Saya berpikir hidup ini selalu butuh yang namanya motivasi dan inspirasi. Nah, selain Kitab Suci, saya merasa buku ini bisa jadi tempat saya mencari kedua hal tersebut.

Buku selanjutnya yang membuat saya tertarik untuk memilikinya adalah buku Mindset karya Carol S. Dweck yang sebelumnya tidak sempat saya selesaikan. Ya mau bagaimana lagi? Buku pinjaman tersebut berbahasa Inggris. Ya saya lama bacanya, hehehe. Beruntungnya, di negara ini ada yang versi bahasa Indonesia. Jadilah saya beli. Setelah membaca, saya bisa bilang saya sangat suka buku ini. Banyak yang diuraikan di sana mengena bagi saya. Saya bisa setuju dan paham. Hanya saja, saat saya rekomendasikan ke teman, mereka tidak sependapat. Mereka bilang buku ini sebenarnya berputar-putar pada masalah yang sama, tidak terlalu informatif. Selain itu, hal yang dibahas di sini lumayan out dated. Contohnya pun itu-itu saja, hanya diulang-ulang. Ya memang itu semua benar sih. Kalau dipikir, saya suka buku ini lebih karena relate. Saya merasa ada unsur fix mindset dan growth mindset dalam diri saya. Namun, lingkungan sekitar saya kebanyakan mendorong ke arah fix mindset sehingga saya kadang merasa tidak nyaman. Karena itu, buku ini seakan mengonfirmasi perasaan-perasaan saya itu. Buku ini juga memberikan pemahaman yang lebih dalam seputar growth mindset, manfaatnya, dan bagaimana cara untuk lebih mempraktikannya di kehidupan sehari-hari.

Buku Mindset Buku Mindset punya saya

Selain buku-buku di atas, ada beberapa buku lain yang saya beli dengan topik self-imporvement atau self-healing atau yang menurut saya bisa menenangkan saya.

Kemudian, saya merasa ingin membaca buku-buku yang ada di rumah tapi belum sempat saya baca. Sejak pertama pergi ke toko buku, ada lumayan banyak buku yang saya miliki. Namun, beberapa tidak saya baca biasanya karena malas, hehehe. Memang diri ini orangnya impulsif. Anyway, saya merasa ada momentum untuk membaca, jadi saya manfaatkan. Beberapa buku tersebut antara lain Buku Pintar Memahami Bahasa Tubuh dan Rahasia Melejitkan Daya Ingat Otak yang saya beli saat SMA. Momentum ini juga membuat saya akhirnya kembali membuka buku yang dulu dipinjamkan pada saya. The Hobbit dan The Adventures of Tow Sawyer akhirnya saya baca juga.

Telat ya? Hehehe. Namun, saya merasa waktu itu adalah waktu yang tepat untuk membaca dua novel ini. Saya dulu bukan anak yang suka dunia fantasi karena terkesan hanya berkhayal semata. Apa kerennya cerita yang tidak ada sangkut-pautnya dengan dunia nyata? Bukankah tidak perlu riset? Akan tetapi, saya sudah menjadi orang yang lebih menghargai banyak hal (semoga benar). The Hobbit punya cerita yang terdengar seperti dongeng. Saya merasa tidak harus bisa membayangkan semua adegan dengan detail seperti dalam film-film. Saya hanya perlu bersikap seperti orang yang sedang didongengkan, atau orang yang sedang mendengar pengalaman orang lain. Dan ternyata itu menyenangkan juga lho. Buku fantasi tidak harus dibayangkan secara fantastis kok. Kalau Tom Sawyer, saya merasa ceritanya menarik untuk dibaca saat kita besar. Mengapa? Karena bisa membuat kita membayangkan masa anak-anak. Bagaimana pola pikir anak-anak, bagaimana bodoh sekaligus cerdiknya kita menanggapi sesuatu, berbagai pemikiran kreatif yang absurd tapi masuk akal, dan berbagai hal menarik lain yang telah hilang dalam diri orang dewasa. Intinya, saya bersyukur punya kesempatan membaca kedua buku ini. Saya juga bersyukur saya masih bisa mengembalikan keduanya ke pemiliknya.

Sekarang

Kalau sekarang sih saya masih suka membaca, dan masih salah satu orang paling malas di dunia. Hehehe. Terakhir saya membaca buku mungkin dua bulan sebelum saya menulis tulisan ini. Ada beberapa buku yang ada di rumah dan belum saya baca. Mungkin setelah tulisan ini terbit.

Kalau sekarang saya lebih suka membaca novel. Mengapa? Karena novel itu ringan, tidak banyak effort untuk membacanya. Selain itu, saya sedang tertarik dengan cerita-cerita. Saya jadi ingin belajar tentang menulis fiksi. Namun, saya tetap tertarik dengan buku-buku non fiksi bertema self-improvement. Saya merasa topik ini tetap bagus untuk dibaca kapanpun karena kita harus berkembang setiap saat. Kok malah sok motivator begini sih, hehehe. Tidak berkembang juga tidak apa-apa kok sebenarnya, yang penting ingat untuk selalu bahagia.

Perjalanan saya membaca akhir-akhir ini membuat saya jadi tahu cara-cara untuk bisa membaca buku.

Yang pertama jelas membeli buku, hehehe. Kalau beli sebenarnya kita bisa dapat harga bagus kalau kita cari-cari diskonan, terutama di toko online. Toko resmi seperti Gramedia dan Mizan Store itu selalu ada diskonan secara berkala. Saya menyarankan beli di toko resmi agar bukunya asli. Kasihan yang buat, tidak hanya penulisnya tapi juga yang ngedit, yang nyetak, yang marketing, dan yang-yang lainnya. Bisa juga pergi ke event buku. Biasanya bazar buku ada diskonannya yang lumayan. Kita juga bisa sambil lihat-lihat buku, kira-kira apa yang menarik. Tapi kalau ini ya siap-siap desak-desakkan dengan pengunjung lain. Oh iya, hampir lupa. Belakangan saya jadi tahu tentang BBW alias Big Bad Wolf, yakni bazar buku yang biasa diselenggarakan tahunan. Thanks to Joni tentunya. Event ini lumayan banget diskonannya. Ada yang versi online dan on-site pula di beberapa kota besar. Namun event ini lebih khusus untuk buku-buku luar, alias yang berbahasa Inggris.

Buku yang Dibeli di Big Bad Wolf Buku yang saya beli dari BBW (baru satu yang sudah saya baca)

Yang kedua adalah pinjam teman/saudara. Nah ini cara yang hemat. Yang penting kita tahu diri untuk mengembalikannya dalam waktu yang acceptable. Dijaga juga bukunya, jangan sampai rusak, apalagi hilang, hehehe. Memang agak resiko juga sih, tapi sebenarnya cara ini juga bisa menambah kedekatan kita dengan orang-orang yang kita sayangi tersebut. Cara ini juga bisa membuat buku-buku yang kita beli jadi lebih bermanfaat. Misalnya, saya kalau baca ulang buku biasanya perlu menunggu cukup lama. Nah, kalau dipinjamkan 'kan buku itu tidak nganggur. Kita juga bisa memberi manfaat bagi sesama.

Cara ketiga untuk membaca buku adalah pakai media digital. Kita bisa beli atau langganan dari penyedia layanan buku-buku digital. Yang hemat, pakai aplikasi untuk pinjam buku. Yang saya tahu, ada iPusnas untuk buku-buku lokal dan Libby untuk buku-buku internasional. Konsepnya kita daftar, lalu kita bisa pinjam buku yang tersedia alias available. Maksudnya, tidak hanya berarti aplikasi (atau lebih tepatnya perpustakaan aplikasi) itu punya buku yang dimaksud, tapi juga jumlah copy buku masih ada. Jadi, tiap buku ada jumlah copy-nya, yang membatasi jumlah peminjam dalam satu waktu. Karena itu kadang kita perlu antri. Ya, antri 'lah...! (nada iklan Rinso) Mengantri itu baik....

Logo iPusnas dan Libby Alhamdulillah ada yang gratisan (sumber: iPusnas dan Overdrive)

Btw, di atas disebut 'baca ulang buku'. Apakah saya baca buku hanya sekali, atau diulang-ulang? Saya adalah orang malas, tapi saya merasa membaca ulang buku itu worth it. Besar kok manfaat baca ulang buku. Saya pernah baca ulang novel Agatha Christie saya, dan saya tetap bisa menikmatinya. Sekarang ini saya berencana untuk baca ulang Think Like A Monk agar saya bisa buat tulisan tentangnya. Entah terlaksana atau tidak, huhuhu. Baca ulang buku itu membuat proses membaca lebih ringan sebenarnya, karena 'kan kita sudah berbekal ingatan kita. Namun, dengan melakukannya kita bisa memperkuat pemahaman kita tentang buku tersebut. Kita juga jadi lebih paham hal-hal yang mungkin terlewat saat kita pertama membaca. Selain itu, membaca buku untuk pertama kali juga terasa lebih ringan. Lho kok bisa? Ya bisa 'lah! Karena kita punya perasaan kalau tidak paham sekali baca, kita bisa baca ulang lain waktu seperti buku-buku lain yang telah kita baca ulang dahulu.

Penutup

Tidak semua orang suka membaca, jadi ya jangan dipaksakan. Saya menghormati fakta bahwa orang-orang itu terlahir dengan minat dan kesukaan masing-masing. Begitu juga perjalanan hidup kita semua beda-beda. Saya sendiri bukanlah kutu buku yang selalu dan selalu membaca. Hanya saja seperti kata Dilan pas teleponan di telepon umum saat dia dituduh deket sama perempuan lain: "...tidak suka bukan berarti benci...".

Ya menurut saya membaca itu mirip dengan olahraga. Tidak semua orang suka olahraga, tapi semua orang butuh olahraga. Karena itu kita tetap berusaha menggerakkan tubuh kita sekalipun sedikit-sedikit. Ya, yang sedikit-sedikit itu tidak sia-sia kok. Akhirnya, semoga kita semua bisa menjadikan membaca dan berolahraga sebagai kebiasaan dan bagian dari hidup kita, aamiin.

Huh, akhirnya kita sampai di penghujung acara. Semoga bermanfaat, mohon maaf kalau ada salah-salah kata. Sampai jumpa di kesempatan yang lain!

Catatan

Beberapa gambar di post ini diperbesar dengan waifu2x.

Fetured image by Pixabay with Pexels

Komentar

Ingin berkomentar?