Okey, kini saatnya saya membahas buku yang baru saja saya baca. Masih fresh di ingatan saya. Karena saya merasa bersalah dengan pos-pos sebelumnya tentang buku yang saya buat dengan jarak yang cukup jauh (hitungan bulan mungkin) dengan waktu baca buku yang dimaksud.
Angsa dan Kelelawar, novel ketiga yang saya baca dari pengarang Keigo Higashino. Memang pengarang ini membuat penasaran. Rasanya ingin dan ingin baca karya-karyanya yang lain lagi. Buku ini tergolong baru. Versi Jepangnya diterbitkan tahun 2021, sedangkan versi Indonesianya diterbitkan tahun 2023.
Baiklah, langsung ke rangkuman kesan saya mengenai novel ini. Apakah rekomen atau tidak? Saya merasa tidak se-rekomen Pembunuhan di Nihonbashi (The Newcomer) dan Keajaiban Toko Kelontong Namiya. Yang jelas gaya ceritanya berbeda. Walaupun ide ceritanya keren juga sih sebenarnya. Saya akan bilang kalau kalian suka jenis novel yang rumit, punya banyak elemen pembangun cerita, bercampur drama-drama, mengupas dari berbagai sudut pandang dan perasaan banyak tokoh-tokohnya, maka novel ini akan cocok. Namun, kalau kalian lebih suka cerita yang lugas, jelas, tempo cepat, tidak berbelit-belit, maka novel ini jadi kurang cocok.
Ya begitulah. Bagi yang merasa tertarik dan ingin baca bukunya dulu, silakan. Bagi yang ingin baca lanjutan pembahasan di sini, maka kita langsung saja mulai dari awal mengapa saya membaca buku ini.
Ingin Merasakan Hype Penikmat Buku
Suatu hari di akhir Februari lalu, saya membaca sebuah berita dari Republika.co.id yang versi Yogyakarta. Berita itu mengenai sebuah acara bernama Semesta Buku yang diadakan oleh Gramedia. Acara itu terselenggara mulai dari 23 Februari sampai 3 Maret 2024. Yang jelas, karena acara buku maka buku-buku di sana banyak yang dijual dengan diskon yang manarik. Namun, yang menarik bagi saya adalah acara buku itu sendiri, karena saya belum pernah mendatangi yang seperti itu sebelumnya.
Okey hari Jumat sekalian jumatan, saya memutuskan untuk pergi ke Yogyakarta. Tempat acara tersebut terselenggara beralamat di Jalan Raya Tajem, Maguwoharjo, Sleman. Dengan berbekal Google Map, saya akhirnya sampai tujuan sebelum hari sore.
Okey, jadi seperti yang diduga, acara tersebut ramai orang. Namun, yang tidak saya duga, tempat itu ramai oleh para anak sekolah dan mahasiswa. Ya iyalah, nama juga Ngayogyakarto, kotanya pelajar. Betapa saya merasa bodoh tidak memikirkan hal itu. Yang jelas mengapa itu penting adalah karena saya ingin merasakan animo para pecinta buku yang lain. Dan saya mendapatkannya, sekalipun datang dari anak-anak sekolahan/kuliahan (yang entah apakah mereka memang pecinta buku atau sekedar ingin ikut acara-acara yang sedang berlangsung di sana).
Awalnya saya ingin membeli banyak buku. Selain buku yang akan saya bahas ini, saya juga telah menenteng Gadis Kretek, dua serial Funiculi Funicula, dan Bicara Itu Ada Seninya menuju kasir. Namun mengingat niat saya ke sana bukan untuk membeli buku, saya drop buku fiksi selain Angsa dan Kelelawar. Lumayan sih, dapat diskon 20 persen. Kalau pilih buku-buku lain mungkin diskonnya bisa lebih besar. Bagaimanapun, yang saya cari sebenarnya hanyalah hype-nya saja.
Cerita Detektif tapi Tersangkanya Sudah Tertangkap Duluan
Kita beralih ke isi buku Angsa dan Kelelawar sendiri. Cerita dimulai dengan dua orang detektif, Godai dan Nakamachi, yang sedang menyelidiki kasus pembunuhan Shiraishi Kensuke, seorang pengacara yang ditemukan tewas di mobilnya sendiri yang terparkir di suatu kawasan pertokoan Tokyo. Kasus tersebut membuat kepolisian mengerahkan tim gabungan khusus untuk menyelidikinya. Sepasang detektif tersebut merupakan bagian dari tim ini, yang mendapat tugas untuk mewawancarai orang-orang yang berhubungan dengan korban.
Fakta-fakta yang ada sangat membingungkan. Godai dan rekannya yang berusaha menyelidiki kasus ini berdasarkan motif pembunuhan pun juga dibuat pusing. Penyelidikan pun tidak mendapat perkembangan yang berarti hingga Godai bertemu dengan Kuraki Tatsuro.
Tatsuro adalah penduduk luar kota yang tercatat pernah menelpon kantor korban. Kecurigaan sedikit demi sedikit terarah padanya hingga ia sendiri mengaku sebagai pelaku kejahatan tersebut. Namun yang mengejutkan, alasan ia membunuh sang pengacara adalah karena ia ingin menutupi pembunuhan lain yang ia lakukan lebih dari tiga puluh tahun yang lalu. Pengakuan ini membuat kasus menjadi semakin rumit. Lebih banyak peristiwa yang perlu dijelaskan, lebih banyak orang yang jadi terlibat.
Tertangkapnya Kuraki Tatsuro memberi dampak tidak hanya pada dirinya tapi juga keluarganya. Anaknya, Kuraki Kazuma, yang merupakan keluarga satu-satunya, mulai mendapat kesulitan-kesulitan dalam hidup. Dalam keterkejutannya, ia merasa sulit percaya dengan apa yang terjadi. Ia lalu merasa aneh. Ia yakin ada sesuatu yang salah dalam kasus ini.
Tidak hanya Kazuma, Shiraishi Mirei, putri korban, juga tidak puas dengan pengakuan tersangka. Ia lalu memutuskan untuk menemukan kebenaran. Jalan kedua orang ini, yang satu dari pihak berkabung dan yang satu dari pihak yang dipersalahkan, akhirnya bertemu.
Cerita yang Berbeda dari Cerita Detektif Umumnya
Poin paling menonjol yang saya suka dari Angsa dan Kelelawar adalah ide ceritanya. Saya sering membaca novel detektif, seperti Sherlock Holmes dan karyanya Agatha Christie. Biasanya cerita dimulai dengan adanya kasus, kadang juga sebelum kasus terjadi, lalu penyelidikan yang membingungkan, lalu ditutup dengan kesimpulan yang fantastis dan memuaskan serta tertangkapnya tertuduh. Namun novel ini seperti terbalik. Tertuduh tertangkap dulu baru ada petunjuk yang jelas dan signifikan. Petunjuk inilah yang malah jadi garis start penyelidikan.
Poin selanjutnya yang saya suka adalah jalan ceritanya. Terdapat banyak unsur-unsur pembangun cerita, membuat cerita jadi terasa lengkap dan detail. Ada masalah pembunuhan, ada tim gabungan kepolisian, ada pihak korban, ada pihak tersangka, ada pihak-pihak dalam persidangan, ada peristiwa lain yang terkait, ada pula pihak-pihak yang berhubungan dengan peristiwa lain tadi yang akhirnya juga ikutan terlibat. Proses berceritanya juga lumayan rapi. Tidak bisa dikatakan mudah dipahami, tapi minimal bisa membuat paham. Lalu yang pasti adalah ending yang memberikan semua penjelasan yang memuaskan. Tidak ada yang terlewat hingga semua pertanyaan yang sudah di-set up jadi kebagian terjawab.
Poin lain yang saya suka adalah cara mengungkapkan kebenaran yang 'sedikit demi sedikit'. Kalau biasanya dalam novel Agatha Christie kebenaran yang terpercaya hanya ada di sekitar 50 halaman terakhir, maka dalam novel ini irisan kebenaran akan pembaca dapatkan lebih awal. Proses ini akan berlangsung bersamaan dengan cerita yang masih berlanjut, jadi tidak lantas ending twist. Konsep ini bukan berarti lebih superior, hanya saja memberi perbedaan yang bisa kita nikmati. Kita jadi seperti berjalan di atas jalan yang lama-lama menghantarkan kita ke tujuan. Seakan-akan kita jadi penyelidik juga, mendapat fakta dan bukti yang membuat kita bisa membuat bayangan yang semakin lama semakin jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Jembatan Eitai, Salah Satu Tempat yang Ada di Novel (sumber: Tokyo Night)
Poin plus lainnya adalah novel ini terkadang memberi gambaran tentang kehidupan di Jepang. Beberapa lokasi yang digunakan dalam adegan benar-benar ada seperti Sumidagawa Terrace, Jembatan Eitai, Monzen-Nakacho, dan lain-lain. Makanan khas Jepang juga disebut-sebut, disertai penjelasannya di catatan kaki. Budaya-budaya lain seperti kelengkapan kedai-kedai minum, arsitektur, juga adat pernikahan membuat pembaca bisa merasa lebih dekat dengan negeri sakura tersebut.
Drama yang Kadang Membosankan
Kita lanjut ke apa yang saya kurang suka dari novel ini. Poin pertama adalah cerita yang tersusun dari campuran kisah misteri detektif dan drama. Kisah detektif diwujudkan dengan kasus pembunuhan, sedangkan kisah drama diwujudkan dengan polemik yang dihadapi keluarga korban dan keluarga tersangka. Sebenarnya gagasan ini terlihat menarik, tapi akhirnya saya merasa kurang suka karena mengganggu fokus cerita. Misteri pembunuhan membuat pembaca digantung dengan sebuah pertanyaan, yang kalau boleh saya sebut sebagai 'titik pusat'. Namun, drama-dramanya itu tidak mengarah ke sana, seakan-akan dahan bercabang yang menyebar ke mana-mana. Karena itu, saya merasa sedikit lelah mengikuti perjalanan tokoh-tokohnya dalam permasalahan-permasalahan yang tidak terlalu memberi kejelasan pada 'titik pusat' tersebut. Sebagai contoh, terdapat gambaran reaksi netizen kepada Kazuma sebagai keluarga tersangka. Kesan yang saya tangkap, keberadaan media sosial modern ini sekedar pelengkap saja. Investigasi tidak terpengaruh sama sekali. Justru koran/majalah yang berperan penting di sana.
Foto Pribadi
Poin lain yang tidak saya suka adalah kecepatan atau pace cerita. Novel ini diawali dengan investigasi yang berjalan cepat hingga kita mendapatkan Kuraki Tatsuro sebagai tersangka. Namun setelah itu cerita berjalan lumayan lambat. Kita perlu berjalan melewati drama yang saya sebutkan di atas, lalu berbagai kesulitan untuk mengungkap peristiwa di masa lalu, kemudian berbagai prosedur dan proses hukum. Bagi saya, hal ini membuat daya tarik akan kasus pembunuhannya berkurang.
Poin selanjutnya yang menurut saya tidak saya sukai adalah cerita dari tiga sudut pandang. Ketiganya adalah sudut pandang Godai, Kazuma, dan Mirei. Mungkin ini terdengar menarik, dan mungkin juga sebenarnya memang menarik. Ini hanya pendapat saya saja. Menurut saya, cara bercerita inilah yang paling membuat saya merasa lelah. Saat saya sudah berusaha memahami perasaan Kazuma yang berusaha menghadapi kesulitan-kesulitan yang akan terjadi, cerita lalu beralih ke Mirei yang keras kepala ingin mengungkap kebenaran. Maksud saya, saya jadi tidak bisa benar-benar menikmati dramanya. Begitu juga saya tidak bisa benar-benar terhubung dengan tokoh-tokoh yang ada. Akhirnya saya malah lebih tertarik dengan Godai karena ia di sini kedudukannya netral. Ia juga yang lebih mengarahkan cerita ke 'titik pusat'.
Bagaimana Menurut Kalian?
Okey, jadi seperti ini saja tulisan ini ya. Mengenai hal-hal yang tidak saya sukai dari novel ini, jujur saya merasa tidak enak saat menulisnya. Bagi saya, tulisan berbentuk buku seperti novel tentulah suatu karya yang proses pembuatannya perlu kerja keras. Siapa saya, yang seenaknya menulis hal-hal buruk? Saya mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Niat saya hanyalah berusaha berbagi pemikiran dan gagasan. Saya juga ingin belajar masalah buku (terutama fiksi) karena saya sendiri merasa tertarik untuk menulis. Dan sekarang saya belajar bahwa membuat suatu karya tidak harus sempurna dan bagus di semua sisi. Karya manusia sudah sewajarnya punya kekurangan, yang terpenting adalah bagaimana karya tersebut bisa mewujudkan tujuan si pembuatnya. Ngomong apa saya barusan, hehehe.
Bicara tentang tujuan, saya merasa novel ini ingin menyampaikan pesan bahwa peristiwa pembunuhan itu menghasilkan keburukan yang sangat besar dan menyeluruh. Tidak hanya kepada korban dan orang-orang terdekat korban, tapi juga kepada orang-orang sekitaran pembunuhan, orang-orang yang dicurigai bahkan keluarga pelaku. Bahasa kasarnya, semua orang kena dampak, dan dampaknya pun tidak main-main.
Jadi apa tanggapan kalian? Apakah kalian jadi tertarik membaca Angsa dan Kelelawar?
